Penerapan Pajak Tingkok-AS Memengaruhi Ekspor Minyak Sawit Indonesia
Ilustrasi (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
Jakarta: Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyatakan penerapan pajak tinggi pada produk yang diimpor dari Tiongkok dan Amerika Serikat (AS) memberikan dampak pada kinerja ekspor minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) dan produk turunannya.

Ketua Umum GAPKI Joko Supriyono mengatakan ekspor minyak sawit Indonesia ke Amerika Serikat pada April tercatat menurun dibandingkan dengan bulan sebelumnya di Maret. Kondisi ini diharapkan tidak terus terjadi di masa-masa mendatang dan segera ada solusi dari persoalan dimaksud.

"Ekspor minyak sawit Indonesia ke Amerika serikat pada April ini mencatatkan volume 62,16 ribu ton atau turun 42 persen dibandingkan dengan Maret lalu yang mencapai 106,57 ribu ton," kata Joko, di Jakarta, Rabu Malam, 30 Mei 2018.

Menurunnya impor ke Negeri Paman Sam itu dikarenakan stok kedelai yang tinggi di dalam negeri sebagai akibat dari kebijakan Tiongkok terhadap AS yang menerapkan pajak tinggi pada produk-produk yang diimpor dari Tiongkok sehingga Tiongkok saat ini membalas dengan tarif tinggi terhadap impor kedelai dari AS.

Sementara itu, lanjut Joko, untuk ekspor ke Uni Eropa, GAPKI juga membukukan penurunan impor sebanyak 17 persen atau dari 461,24 ribu ton di Maret merosot menjadi 385,10 ribu ton pada April.  "Penurunan impor minyak sawit oleh Uni Eropa dipengaruhi oleh stok minyak rapeseed mereka dan berbagai aksi kampanye negatif terhadap minyak sawit," ujar dia.

Impor minyak sawit Uni Eropa di triwulan I-2018 telah tergerus 312,19 ribu ton atau sekitar 16 persen dibandingkan dengan periode yang sama 2017, dari 1,90 juta ton turun menjadi 1,59 juta ton. Sedangkan, dari sisi harga, kata Joko, sepanjang April 2018 harga CPO global bergerak di kisaran USD640-USD680 per metrik ton dengan harga rata-rata USD662,2 per metrik ton.

Harga rata-rata April menurun USD14 dibandingkan dengan harga rata-rata pada Maret lalu USD676,2 per metrik ton. Kecenderungan yang unik di Maret dan April 2018 ini, dianalisa karena adanya beberapa hambatan dagang terhadap minyak sawit, baik secara tarif barrier ataupun non tarif.



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id