Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Papua dan Papua Barat, Roy Aditia Perangin-Angin saat memberikan keterangan soal indeks literasi dan inklusi keuangan di kantor OJK. Foto: Medcom.id/Roy Ratumakin.
Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Papua dan Papua Barat, Roy Aditia Perangin-Angin saat memberikan keterangan soal indeks literasi dan inklusi keuangan di kantor OJK. Foto: Medcom.id/Roy Ratumakin.

OJK: Literasi dan Inklusi Keuangan di Papua Masih Lemah

Ekonomi ojk inklusi keuangan
Roylinus Ratumakin • 22 November 2019 21:08
Jayapura: Survei Nasional Literasi Keuangan (SNLIK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun ini menunjukkan indeks literasi keuangan mencapai 38,03 persen dan indeks inklusi keuangan 76,19 persen.
 
Angka tersebut meningkat dibanding hasil survei OJK 2016, yaitu indeks literasi keuangan 29,7 persen dan indeks inklusi keuangan 67,8 persen. Namun untuk Papua dan Papua Barat, literasi dan inklusi keuangan masih lemah.
 
"Literasi keuangan di Papua yang tadinya 22,8 persen meningkat menjadi 27 persen. Sedangkan inklusi keuangan masih stabil di antara 60 hingga 62 persen," kata Kepala OJK Papua dan Papua Barat Adolf Simanjuntak kepada Medcom.id, Jumat, 22 November 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kata Adolf, jangankan Provinsi Papua dan Papua Barat, data indeks literasi keuangan dan inklusi nasional saja masih kalah dengan negara-negara di ASEAN.
 
"Kalau di Singapura sudah mencapai 90 persen soal literasi keuangan, karena CS dan OB (office boy dan cleaning services) sudah membahas saham, kalau kita di sini masih membahas soal perbankan, termasuk soal pasar modal dan asuransi masih awam," ujarnya.
 
Disinggung soal indikator indeks literasi dan inklusi keuangan, Roy Aditia Perangin-Angin selaku Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Papua dan Papua Barat mengatakan ada tiga indikator di antaranya kenal atau tidak, paham atau tidak, dan keyakinan.
 
"Literasi itu lebih kepada pemahaman. Pertama masyarakat mengenal tidak dengan bank, masyarakat kenal tidak dengan prodak bank, masyarakat kenal tidak dengan prodak saham. Ini berlaku untuk semua misalnya pasar modal, industri keuangan (pegadaian), asuransi. Kalau survei untuk bank pastinya tinggi di atas 50 persen, tetapi dari rilis OJK masih di bawah 38,03 persen," jelasnya.
 
Selain sudah mengenal, kata Roy, masyarakat harus memahami soal produk dari bank, pasar modal, ataupun asuransi.
 
"Ada orang yang mengenal tetapi belum paham. Selain itu soal keyakinan. Masyarakat yakin tidak menggunakan produk tersebut. Ini yang menyebabkan literasi kita secara nasional masih di bawah standar. Mengapa? Salah satu sebabnya adalah letak geografis Indonesia yang berpulau-pulau serta akses internet yang masih terbatas khususnya di wilayah timur Indonesia," ujarnya.
 
Hal ini juga berpengaruh pada indeks inklusi keuangan. Secara nasional berada pada 76,19 persen. Roy menegaskan masih sangat rendah.
 
"Jadi banyak banyak masyarakat yang menggunakan jasa keuangan tetapi sebenarnya belum paham. Kenapa? Misalnya Aparatur Sipil Negara (ASN), sistem penggajiannya dari bank, sehingga diharuskan buka rekening di bank, tetapi ketika ditanya berapa suku bunga per tahun, dia tidak bisa jawab," tambahnya.
 
Untuk itu, Roy berharap perlu ada pemahaman dikalangan masyarakat terkait dengan produk yang ingin diambilnya baik itu di sisi perbankan, pasar modal, maupun di pegadaian. Sehingga pemahaman itu tidak stagnan tetapi ada peningkatan dari tahun ke tahun.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif