Ilustrasi. FOTO: dok MI.
Ilustrasi. FOTO: dok MI.

BI: Ekonomi Indonesia Tetap Punya Daya Tahan

Ekonomi bank indonesia ekonomi indonesia
Angga Bratadharma • 09 Desember 2019 14:29
Labuan Bajo: Bank Indonesia (BI) menyebutkan perekonomian Indonesia tetap berdaya tahan hingga sekarang ini. Hal itu diyakini bank sentral Indonesia meski pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2019 mencapai 5,02 persen secara year on year (yoy) atau sedikit melambat dari kuartal sebelumnya yang mencapai 5,05 persen (yoy).
 
Secara spasial, Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Endy Dwi Tjahjono mengungkapkan konsumsi rumah tangga tetap kuat dan pertumbuhan investasi tetap baik terkait proyek strategis nasional di Sulawesi, Kalimantan, dan Jawa.
 
"Kinerja ekspor di beberapa daerah membaik, termasuk ekspor manufaktur seperti otomotif dari Jawa dan besi baja dari Sulawesi," ungkap Endy, saat Pelatihan Wartawan Bank Indonesia, di Labuan Bajo, NTT, Senin, 9 Desember 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sedangkan konsumsi rumah tangga pada kuartal III-2019 tetap tumbuh tinggi yakni mencapai 5,01 persen, meski melambat dibandingkan dengan pertumbuhan kuartal sebelumnya sebesar 5,17 persen (yoy). Pertumbuhan konsumsi rumah tangga didukung oleh terjaganya konsumsi masyarakat berpenghasilan rendah dengan penyaluran bantuan sosial pemerintah.
 
"(Kemudian) semakin besarnya kelompok masyarakat berpendapatan menengah, serta terjaganya stabilitas harga," tuturnya.
 
Terkait investasi, Endy mengatakan, pada kuartal III-2019 tumbuh 4,21 persen (yoy) atau lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan kuartal sebelumnya sebesar 5,01 persen (yoy). Investasi bangunan tetap tumbuh cukup baik sejalan dengan pembangunan proyek-proyek infrastruktur strategis nasional di tengah investasi non bangunan yang tumbuh melambat.
 
Namun, Endy menyoroti perbaikan ekspor yang belum kuat. Ekspor pada kuartal III-2019 membaik dan tumbuh positif menjadi 0,02 persen (yoy) dibandingkan dengan kinerja kuartal sebelumnya yang turun 1,98 persen. Perbaikan itu ditopang oleh ekspor manufaktur seperti otomotif dan besi baja.
 
"Namun, perbaikan belum kuat akibat permintaan dan harga komoditas global yang menurun," ucapnya.
 
Sementara impor, tambahnya, menurun. Impor pada kuartal III-2019 turun 8,61 persen (yoy), lebih dalam dari kinerja pada kuartal sebelumnya yang turun 6,78 persen. Penurunan tersebut sejalan dengan perbaikan ekspor yang belum kuat, investasi non bangunan yang melemah, serta dampak dari sinergi bauran kebijakan yang telah ditempuh.
 
"Untuk mengendalikan defisit neraca transaksi berjalan," kata Endy.
 
Lebih lanjut, Endy mengklaim, neraca pembayaran Indonesia membaik. Defisit neraca pembayaran Indonesia pada kuartal III-2019 turun yakni dari USD2,0 miliar pada kuartal sebelumnya menjadi USD46 juta, ditopang defisit neraca transaksi berjalan yang membaik serta surplus transaksi modal dan finansial yang cukup tinggi.
 
"Posisi cadangan devisa tetap kuat yang pada akhir November 2019 mencapai USD126,6 miliar, stabil dari USd126,7 miliar pada akhir Oktober 2019," pungkasnya.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif