Bank Indonesia (BI) MI/Usman Iskandar.
Bank Indonesia (BI) MI/Usman Iskandar.

Bank Mandiri Optimistis BI Turunkan Suku Bunga Acuan

Ekonomi bank mandiri
Nia Deviyana • 17 Juli 2019 21:09
Jakarta: Bank Mandiri optimistis Bank Indonesia (BI) akan menurunkan suku bunga acuan atau BI 7 days reverse repo rate pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang akan digelar pekan ini.
 
Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri Panji Irawan berasumsi turunnya suka bunga acuan karena bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed kemungkinan juga akan menurunkan suku bunganya. Selebihnya, outlook makro ekonomi Indonesia yang dinilai cerah turut mendukung.
 
"Kalau kita lihat beberapa waktu ke belakang, outlook ekonomi kita cukup bagus. Nilai tukar rupiah menguat, capital inflow masuk, indeks secara umum naik walau sempat terkoreksi. Jadi kalau lihat parameter yang ada, kemungkinan ada penurunan 25 bps," ujar Panji usai memublikasikan kinerja perusahaan di Plaza Mandiri, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu, 17 Juli 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Panji menuturkan apabila benar terjadi penurunan suku bunga acuan, bakal berdampak positif pada perbankan, terutama turunnya cost of fund. Selain itu bisa membantu menaikkan Net Interest Margin (NIM) bank yang mengalami penurunan.
 
"Enam bulan ke depan dengan suku bunga turun dan pelonggaran GWM itu, Mandiri ketambahan (likuiditas) Rp4 triliun yang siap digunakan," papar Panji.
 
Adapun pada Juni 2019, Keputusan RDG memutuskan BI tetap mempertahankan suku bunga acuan di level enam persen. Dengan demikian, suku bunga acuan di level tersebut sudah bertahan selama delapan bulan sejak November 2018.
 
Selain mempertahankan suku bunga acuan, otoritas juga mempertahankan suku bunga deposit facility sebesar 5,25 persen pada Juni 2019, serta suku bunga lending facility di posisi 6,75 persen.
 
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo sebelumnya menuturkan akan terus mencermati kondisi pasar keuangan global dan stabilitas eksternal perekonomian Indonesia dalam mempertimbangkan penurunan suku bunga kebijakan. Menurut dia, hal itu sejalan dengan rendahnya inflasi dan perlunya mendorong pertumbuhan ekonomi dalam negeri.
 
"Strategi operasi moneter tetap diarahkan untuk memastikan ketersediaan likuiditas di pasar uang. Kebijakan makroprudensial juga tetap akomodatif untuk mendorong penyaluran kredit perbankan dan memperluas pembiayaan bagi perekonomian," kata Perry, belum lama ini.
 

(SAW)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif