BPS Gunakan Teknologi Terkini Perbaiki Proyeksi Produksi Beras

Dheri Agriesta 22 Oktober 2018 20:39 WIB
beras
BPS Gunakan Teknologi Terkini Perbaiki Proyeksi Produksi Beras
Beras. MI/BENNY BASTIANDY.
Jakarta: Wakil Presiden Jusuf Kalla mengadakan rapat terbatas mereview data proyeksi produksi beras yang sempat simpang siur karena di luar estimasi lapangan. Badan Pusat Statistik telah diminta memperbaiki data yang keliru tersebut.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan sejak 1997 sejumlah ahli ekonomi dan ahli pertanian telah menyadari kekeliruan data proyeksi produksi beras Indonesia. Data itu terus bertambah setiap tahun padahal lahan terus berkurang seiring pertumbuhan populasi.

"Tapi memang butuh waktu (memperbaiki itu) dan tiga tahun yang lalu Pak Wapres menugaskan kita memperbaiki metode menggunakan teknologi terkini, dan yang penting transparan supaya bisa dicek dan tidak menimbulkan perdebatan," kata Suhariyanto usai rapat di Kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Senin, 22 Oktober 2018.

Tiga tahun terakhir, BPS bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Kementerian Agraria dan Tata Ruang, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), untuk memperbaiki data tersebut. Perbaikan data menggunakan metode kerangka sampel area (KSA), inovasi BPPT yang mendapat penghargaan dari LIPI.

Suhariyanto menambahkan Kementerian ATR baru saja memperbarui luas lahan baku sawah yang ada saat ini. Pada 2013, tercatat luas lahan baku sawah seluas 7,75 hektare.

"Pada 2018 berdasarkan verifikasi dari Badan Geospasial, Lapan, dan Kementerian ATR, luas lahan baku sawah 7,1 hektare," kata dia.

Berarti, dalam lima tahun terakhir terjadi penurunan luas lahan baku sawah sebesar 635 ribu hektare. Angka ini menjadi dasar penghitungan menggunakan metode KSA.

"Maka luas panen padi pada 2018 diperkirakan sebesar 10,9 juta hektare, saya bilang diperkirakan karena Januari sampai September realisasi, sementara Oktober-Desember itu potensi," jelas dia.

BPS menyebut rata-rata indeks tanam padi merupakan 1,53. Sehingga, jumlah produksi padi dalam bentuk gabah kering sebesar 56,54 juta.

"Kalau kita konversi dengan konversi terbaru maka produksi beras kita adalah 32,42 juta ton beras, angka konsumsi yang digunakan angka konsumsi provinsi tahun 2017 rata-rata nasionalnya 117,58 kilogram per kapita per tahun," kata dia.

Suhariyanto menyebut dari angka itu diperoleh surplus sebesar 2,85 juta ton jumlah produksi beras. Surplus ini, kata dia, tersebar di 14,1 juta rumah tangga produsen.

"Sekitar 47 persennya ada stok di penggilingan, ada stok di pedagan dan sebagainya," jelas Suhariyanto.



(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id