Perlu Langkah Sistemik untuk Memakmurkan Indonesia

27 November 2018 13:42 WIB
kemiskinan
Perlu Langkah Sistemik untuk Memakmurkan Indonesia
Ketua Umum IKA PMII Akhmad Muqowam saat manjadi pembicara di Rakernas IKA PMII.
Jakarta: Kemiskinan dinilai masih menjadi salah satu masalah nasional yang perlu diselesaikan. Diperlukan langkah sistemik untuk mengatasi masalah tersebut dan memakmurkan Indonesia.
 
Hal itu diungkapkan Ketua Umum Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII), Akhmad Muqowam saat Rapat Kerja Nasional (Rakernas) IKA PMII di Jakarta. Rakernas tersebut membedah dan membahas masalah nasional, seperti kemiskinan.
 
"Persoalan-persoalan di bidang sosial, kemiskinan, harus segera selesaikan melalui program yang dirancang oleh Rakernas IKA PMII," kata Akhmad Muqowam, Selasa, 26 November 2018.
 
Dia mengungkapkan, IKA PMII serius mengembangkan sayap di bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Ia tidak ingin IKA PMII terjebak pada kedangkalan, untuk memastikan masa depan kehidupan bangsa yang lebih baik.
 
"Memakmurkan Indonesia tidak bisa dilakukan oleh satu kalangan saja. Namun harus dilakukan secara sistemik, programik, dan berkelanjutan," ujarnya.
 
Rakernas IKA PMII tersebut adalah rangkaian dari Pengukuhan Pengurus Besar IKA PMII periode 2018-2023. Sebelumnya, IKA PMII telah melaksanakan Musyawarah Nasional (Munas) pada Juli 2018.
 
"Sahabat saya formatur ini bertanya-tanya kenapa sih kok lama, persoalannya adalah banyak sekali yang mau. Jadi hari ini saya kira kita bisa menunjukkan bahwa yang hadir alhamdulillah banyak," ujarnya.

Baca: Bansos Kunci Berkurangnya Kemiskinan

Di tempat yang sama, Ketua umum Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj mengatakan, masyarakat Indonesia masih sering tertipu, terperdaya serta terperosok dengan simbol-simbol yang menarik dan menjanjikan melalui label-label agama.
 
"Memang simbol sangat menarik dan tidak membutuhkan kecerdasan, tidak butuh jelimet analisis atau kajian. Simbol yang menarik itu menjanjikan, tapi kalau dibiarkan itu very-very danger," kata Said.
 
Menurut dia, dulu label-label agama sepanjang sejarah sering sekali dimanfaatkan oleh penguasa yang ingin melestarikan kekuasaannya menghadapi para oposisi.
 
"Kalau sekarang terbalik, yang menggunakan label-label simbol agama orang-orang yang sangat tamak rakus terhadap kekuasaan," tegasnya.
 
Tujuan rakernas PB IKA PMII dinilai sangat relevan dan realistis dalam mengatasi permasalahan situasi sosial, ekonomi, politik di Indonesia untuk menyatukan kembali Indonesia sesuai ajaran A quran ummatan wasathan.





(FZN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id