Tahap Pertama Riset Mobil Listrik Indonesia Rampung
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. (FOTO: Medcom.id/Ilham Wibowo)
Jakarta: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bersama beberapa perguruan tinggi di Indonesia telah merampungkan tahap pertama penelitian komprehensif kendaraan listrik. Riset ini dilakukan dalam rangka pengembangan industri kendaraan listrik di Indonesia.

Riset dan studi komprehensif kendaraan listrik ini dilakukan oleh peneliti Universitas Indonesia (UI) Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Toyota Motor Manufacturing Indonesia dan Toyota Astra Motor. Hasil akhir studi meliputi karakteristik teknis, kemudahan pengguna, dampak lingkungan, sosial dan industri serta kebijakan dan regulasi.

"Melalui kesempatan ini, kami menyampaikan apresiasi tinggi kepada Toyota dan para peneliti dari perguruan tinggi, atas riset dan studinya terkait pengembangan dan pentahapan teknologi electrified vehicle di Indonesia," ujar Menteri Perindustrian Airlangga dalam sambutannya di Ruang Garuda, Gedung Kemenperin, Jakarta, Selasa, 6 November 2018.

Menurutnya, riset ini menjadi masukan bagi pemerintah dalam menerapkan kebijakan pengembangan kendaraan listrik. Target 20 persen untuk produksi kendaraan emisi karbon rendah (Low Carbon Emission Vehicle/LCEV) pada 2025 diharapkan dapat tercapai.

"Sebagai salah satu sektor andalan dalam roadmap Making Indonesia 4.0, industri otomotif nasional diharapkan dapat menjadi basis produksi kendaraan bermotor baik internal combustion engine (ICE) maupun electrified vehicle (EV) untuk pasar domestik maupun ekspor," tuturnya.

Pemerintah Indonesia saat ini sedang berupaya untuk mendorong pemanfaatan teknologi otomotif yang ramah lingkungan melalui program LCEV (Low Carbon Emission Vehicle). Hal ini tidak terlepas dari komitmen Pemerintah Indonesia untuk dapat menurunkan Emisi Gas Rumah Kaca (CO2) sebesar 29 persen pada 2030 dan juga sekaligus menjaga energi sekuriti khususnya di sektor transportasi darat.

Airlangga optimistis kendaraan ramah lingkungan menjadi sektor penggerak ekonomi berkelanjutan. Tantangan terkait kenyamanan berkendara oleh para pengguna, infrastruktur pengisian energi listrik, rantai pasok dalam negeri, adopsi teknologi dan regulasi pun bakal dicarikan solusinya.

"Juga termasuk dukungan kebijakan fiskal agar kendaraan electrified vehicle dapat dimanfaatkan oleh para masyarakat pengguna tanpa harus dibebani biaya tambahan yang tinggi," tandasnya.

 



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id