Asuransi Jiwasyara. Foto : MI/RAMDANI.
Asuransi Jiwasyara. Foto : MI/RAMDANI.

Erick Thohir Tak Takut Dijatuhkan karena Kasus Jiwasraya

Ekonomi bumn Jiwasraya
Suci Sedya Utami • 28 Januari 2020 14:22
Jakarta: Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengaku tidak takut kehilangan jabatannya saat ini sebagai pembantu presiden. Ia tidak takut jikalau ada pihak-pihak yang akan menjatuhkan dirinya dari jabatan sebagai menteri.
 
Hal tersebut ia lontarkan merespons pernyataan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono yang mengatakan adanya semangat DPR untuk membentuk panitia khusus dengan salah satu tujuannya untuk menjatuhkan sejumlah pihak seperti eks Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri BUMN Erick Thohir, dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.
 
Erick mengatakan jabatan merupakan titipan Tuhan yang sewaktu-waktu bisa kembali diambil. Dia bilang yang terpenting saat ini dirinya bekerja dengan baik dan profesional. Ia pun tidak mau jika jabatannya saat ini malah mengubah dirinya menjadi pribadi yang tidak baik dari berbagai hal.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Saya rasa gini lah, jabatan itu kan sesuatu yang bisa setiap saat. Yang penting kita sebagai manusianya tidak mengubah karakter kita, jati diri kita karena jabatan. Jabatan itu at any time," jelas Erick.
 
Sebelumnya SBY buka suara perihal perkembangan terkini kasus dugaan korupsi di PT Asuransi Jiwasraya (Persero). SBY menyampaikan sederet penjelasan dalam tulisannya berjudul "PENYELESAIAN KASUS JIWASRAYA AKAN SELAMATKAN NEGARA DARI KRISIS YANG LEBIH BESAR" yang diunggah di akun Facebook resminya, Senin, 27 Januari 2020.
 
Dalam tulisan itu, SBY memulai penjelasan dengan menuturkan bahwa saat kasus Jiwasraya mencuat, Ia tidak berkomentar apapun. Sebab, SBY menilai sebagai sebuah perusahaan, Jiwasraya bisa mengalami masalah.
 
"Pasang surut keadaan keuangan perusahaan, sehat-tidak sehat, boleh dikata lumrah. Namun, ketika dalam perkembangannya saya ketahui angka kerugiannya mencapai Rp13 triliun lebih, saya mulai tertarik untuk mengikutinya. Ini cukup serius."
 
Ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengeluarkan pernyataan permasalahan Jiwasraya sudah terjadi 10 tahun lalu, SBY mengaku tak merasa terusik. Sebab, untung rugi dalam dunia bisnis bisa saja terjadi.
 
Ketika Kementerian BUMN secara eksplisit mengatakan bahwa masalah Jiwasraya bermula di 2006, SBY mengaku juga tak merasa terganggu. Apalagi, di tahun itu SBY saya tak pernah dilapori bahwa terjadi krisis keuangan yang serius di Jiwasraya.
 
"Namun, ketika mulai dibangun opini, dan makin kencang, bahwa seolah tidak ada kesalahan pada masa pemerintahan sekarang ini, dan yang salah adalah pemerintahan SBY, saya mulai bertanya... apa yang terjadi? Kenapa isunya dibelokkan? Kenapa dengan cepat dan mudah menyalahkan pemerintahan saya lagi?," ujar SBY.
 
"Padahal, saya tahu bahwa krisis besar, atau jebolnya keuangan Jiwasraya ini terjadi 3 tahun terakhir. Karenanya, dihadapan staf dan beberapa tamu saya di rumah yang merasa tidak terima jika lagi-lagi saya yang disalahkan, saya sampaikan komentar ringan saya. Intinya, kalau memang tak satupun di negeri ini yang merasa bersalah dan tak ada pula yang mau bertanggung jawab, ya salahkan saja masa lampau," lanjutnya.
 
SBY lantas mengaku terkejut perihal semangat DPR RI membentuk panitia khusus. Sebab, dia menilai bahwa alasannya adalah untuk menjatuhkan sejumlah tokoh antara lain eks Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri BUMN Erick Thohir, dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.
 
"Presiden Jokowi juga harus dikaitkan. Mendengar berita seperti ini, meskipun belum tentu benar dan akurat, saya harus punya sikap. Sikap saya adalah tak baik dan salah kalau belum-belum sudah main "target-targetan"," kata SBY.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif