Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja (tengah). (FOTO: medcom.id/Eko Nordiansyah)
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja (tengah). (FOTO: medcom.id/Eko Nordiansyah)

Bos BCA Beri Sinyal Tak Turunkan Bunga KPR

Ekonomi bca kpr
Nia Deviyana • 22 Februari 2019 17:54
Jakarta: PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memberi sinyal tidak akan menurunkan bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) selama Federal Reserve (The Fed) tidak menurunkan suku bunga acuannya (Fed Fund Rate). Keputusan The Fed berimbas pada kebijakan Bank Indonesia dalam menetapkan suku bunga acuannya.
 
Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG), Kamis, 21 Februari 2019, BI menutuskan menahan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate di level 6 persen.
 
"Sepertinya enggak bisa turun untuk tahun ini. Kecuali kalau Amerika (The Fed) sudah mulai menurunkan suku bunga, dan BI juga kasih sinyal turunkan suku bunga, kita ikut turun," ungkap Presiden Direktur BCA Tjahja Setiaatmadja di ICE BSD Tangerang, Banten, Jumat, 22 Februari 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) berjanji akan melonggarkan kondisi likuiditas perbankan sebagai kompensasi dari kebijakan suku bunga acuan yang masih berada di posisi enam persen.
 
Adapun suku bunga acuan sebesar enam persen sudah bertahan selama empat bulan (November 2018-Februari 2019). Padahal, situasi pasar keuangan menunjukkan sikap melunak (dovish) dari bank sentral AS, The Federal Reserve.
 
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, kebijakan suku bunga acuan diarahkan untuk menopang stabilitas ekonomi dari tekanan eksternal di 2019. Upaya itu dimaksudkan otoritas agar mampu mengendalikan defisit transaksi berjalan dan menarik aliran modal asing ke Tanah Air.
 
"Untuk suku bunga yang tetap (mempertahankan di posisi enam persen), itu kita fokuskan untuk stabilitas eksternal. Sementara untuk likuiditas kita kendurkan, kita tingkatkan ketersediaan likuiditas (bagi perbankan)," ujar Perry dalam jumpa pers di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis, 21 Februari 2019.
 
Ekonom Destri Damayanti sebelumnya menyebutkan, suku bunga acuan di level enam persen merupakan posisi yang ideal bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Menurutnya, era suku bunga yang tinggi menyiratkan bahwa Indonesia tengah menuju kondisi normal yang baru atau new normal era.
 
Di sisi lain, lanjut Destri, perkiraan penaikan suku bunga acuan the Fed sebanyak dua kali pada 2019 menjadi angin segar bagi Indonesia. Sebab, kondisi tersebut secara tidak langsung membawa dampak positif bagi pasar keuangan lantaran imbal hasil AS tak jauh berbeda dengan Indonesia.
 


 

(Des)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif