Ilustrasi. FOTO: Medcom.id.
Ilustrasi. FOTO: Medcom.id.

Industri Asuransi Terus Berkembang Sejak Krisis 2008

Ekonomi ekonomi indonesia
Ade Hapsari Lestarini • 14 Oktober 2019 12:57
Jakarta: Indonesia menunjukkan peningkatan ekonomi yang signifikan sejak krisis finansial global di 2008. GDP per kapita di Indonesia berkembang pesat dari USD857 di 2000 menjadi USD3.603 di 2016. Dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya, Indonesia memiliki porsi terbesar dalam valuasi total GDP.
 
Selain itu, angka konsumsi domestik juga meningkat 0,1 persen dari 2014-2016. Hal ini disebabkan oleh peningkatan setiap tahunnya, sebanyak lima juta penduduk memasuki consuming class dengan penghasilan lebih dari USD3.600 per tahun. Dengan jumlah populasi yang besar dan tingkat konsumsi dasar penduduknya yang tinggi, menjadikan Indonesia sebagai negara pilihan investor asing dalam berinvestasi di Asia Tenggara.
 
Berdasarkan data studi e-Conomy SEA 2018 oleh Google & Temasek, industri digital di Indonesia berkembang sangat pesat. Dengan pengguna aktif internet terbesar di Asia Tenggara (total 150 juta pengguna di 2018), Indonesia merupakan negara dengan ekonomi internet terbesar (USD27 miliar in 2018) dan tercepat (49 persen Compounded Annual Growth Rate dari 2015-2018) di Asia Tenggara.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Gross Merchandise Value (GMV) dari ekonomi internet di Indonesia telah mencapai hampir tiga persen dari GDP keseluruhan. Dengan ruang yang besar di segala sektor, ekonomi internet di Indonesia akan mencapai USD100 miliar pada 2025. Studi e-Conomy SEA di atas membuktikan bahwa internet memainkan peran yang sangat krusial di perekonomian Indonesia.
 
Kondisi ekonomi di Indonesia sangat mendukung pertumbuhan asuransi di Indonesia. Namun kenyataannya berdasarkan data yang ditampilkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tingkat pengetahuan asuransi di Indonesia pada 2017 menunjukkan penurunan sebesar dua persen dari 2013. Selain itu, tingkat utilisasi asuransi juga berkurang dengan tingkat penetrasi hanya kurang dari dua persen yang artinya hanya 4,5 juta Penduduk Indonesia dari total keseluruhan 254 juta penduduk yang memiliki polis asuransi.
 
Melihat masalah ini, regulator (OJK) mengupayakan penggunaan saluran digital untuk asuransi dan telah mengumumkan bahwa pemasaran asuransi secara digital di Indonesia tidak membutuhkan regulasi. Menurut Deputy Commissioner for Supervision of Non-bank Financial Industry Moch. Ihsanuddin, regulasi pemasaran asuransi dikhawatirkan dapat menghambat pertumbuhan industri asuransi. Sementara itu, pemerintah bersama dengan institusi keuangan telah sepakat untuk meningkatkan partisipasi publik terhadap sektor jasa keuangan hingga sebesar 75 persen sampai akhir 2019.
 
Di samping pemasaran online, inovasi secara offline juga merupakan komponen penting untuk pengusaha asuransi mengingat bahwa UMKM di Indonesia belum sepenuhnya mampu memanfaatkan SaaS (Software as a Service) dan lebih cenderung untuk menggunakan setup secara manual. Hal ini dibuktikan bahwa walaupun peningkatan major platforms seperti Go-Jek, Traveloka dan Tokopedia, sebagian transaksi masih berlangsung secara offline, menunjukkan peluang untuk startup asuransi B2B2C untuk menyasar offline retailers seperti agensi perjalanan.
 
Sementara itu, di Indonesia asuransi jiwa merupakan segmen yang paling dominan dengan pertumbuhan yang kuat dari tahun lalu yang mencapai rekor tertinggi premium yaitu Rp167 triliun di 2016 dan asuransi non-jiwa yang sebagian besar merupakan asuransi properti dan kendaraan. Dua segmen ini paling berpengaruh terhadap pasar asuransi di Indonesia.
 
Pertumbuhan yang positif ini akan terus berlanjut hingga 2020 dengan proyeksi CAGR mencapai 13 persen untuk Asuransi Jiwa dan 10 persen untuk Asuransi Properti dan Kecelakaan.
 
"Masyarakat akan mulai membeli lebih banyak produk asuransi seiring dengan perkembangan GDP.Edukasi dan kepercayaan konsumen terhadap produk dan layanan asuransi akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap asuransi lebih jauh lagi. Kerja sama antar perusahaan, media, regulator dan asosiasi asuransi akan menciptakan lebih banyak efek kepercayaan dan kesadaran atas pentingnya asuransi," ujar Presiden Direktur BCA Life Rio Winardi.
 
Indonesia merupakan negara kedua dengan pertumbuhan pasar terbesar di bidang asuransi jiwa, properti, dan kecelakaan menurut premiumnya. Hal ini dipertimbangkan berdasarkan tingkat konsumsi tinggi dan melonjaknya kelas menengah, tumbuh dari 55 juta jiwa di 2013 diperkirakan mencapai 86 juta jiwa di 2020. Kemudian demografi penduduk usia kerja diperkirakan akan mencapai 200 juta jiwa hingga 2035. Lalu masyarakat Indonesia memiliki tingkat optimisitas terbesar terhadap peluang kariernya dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara lainnya.
 
Selanjutnya edukasi mengenai asuransi oleh sektor swasta dan sipil yang sukses meningkatkan kesadaran atas produk asuransi. Kajian dari McKinsey memaparkan dalam lima tahun ke depan diperkirakan pasar asuransi di Indonesia akan berkembang dengan lebih dari 10 persen setiap tahunnya.
 
Hal ini didasarkan oleh fakta bahwa rendahnya tingkat penetrasi di Indonesia menunjukkan bahwa masih luasnya potensi yang belum diraih. Riset dari McKinsey membuktikan bahwa kurang dari 10 persen konsumen di Indonesia telah membuat rencana finansial jangka panjang, di bawah satu persen telah memiliki produk finansial yang bersifat kompleks, seperti saham dan reksa dana. Terakhir sebanyak tiga persen yang mempertimbangkan asuransi jiwa sebagai sumber penghasilan di masa pensiun.
 
Dalam hal asuransi jiwa, BPJS telah menyediakan asuransi kesehatan nasional dengan jumlah penduduk yang teregistrasi lebih dari 130 juta jiwa. Layanan asuransi ini mengkover manfaat medis dan nonmedis namun tidak termasuk kecantikan, gigi, ketidaksuburan dan rehabilitasi narkoba.
 
Dibandingkan dengan sektor finansial non-bank lainnya, produk asuransi telah berkembang sangat pesat dengan rata-rata peningkatan sebesar 20 persen per tahun sepanjang lima tahun lalu. Dari 2010-2014, gross premium dari sektor asuransi telah meningkat hampir dua kali lipat dari Rp125 triliun di 2010 menjadi Rp247 triliun di 2014.
 
Sementara di 2015, gross premium mencapai hampir Rp300 triliun dan di 2015-mid 2016 gross premium telah berhasil mencapai Rp223 triliun. Nilai ROA dan ROE asuransi di Indonesia telah menunjukkan angka yang stabil sepanjang 201-2015. Bahkan di 2015 ketika sektor asuransi dilanda market stress, ROE dan ROE Asuransi Jiwa dan Non-Jiwa tetap menunjukkan angka yang positif. Namun perlu dicatat bahwa insurance liabilities tidak dinilai secara konservatif seperti yang diisyaratkan oleh prinsip inti asuransi. Oleh karena itu, diperlukan pertimbangan yang cermat untuk menilai profitabilitas industri.
 
Saluran distribusi yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan produk asuransi di Indonesia merupakan Bancassurance (perusahaan asuransi yang menjual produk melalui kerja sama dengan bank). Melalui saluran ini, life premium tumbuh menjadi 74 persen di 2016 vs enam persen melalui agen. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa bank berkembang bersama dengan industri asuransi di Indonesia.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif