Komentar Luhut soal Nilai Proyek LRT
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan. ANT/Budi Candra.
Jakarta: Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan turut mengomentari soal besaran biaya proyek pembangunan LRT (Light Rapid Train) atau kereta api ringan di Palembang yang disebut terlalu mahal oleh Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto.

Menurut Luhut, informasi terkait nilai proyek LRT yang diterima Prabowo salah. Rata-rata pembangunan kereta api ringan di Indonesia memakan dana Rp400 miliar. Sementara Prabowo menyebut biaya pembangunan LRT di dunia paling mahal hanya USD8 juta per kilometer (km).

"LRT itu kalau USD7 juta kasihan Prabowo dapat informasi yang enggak pas. Sudah ada datanya kalau kita rata-rata Rp400 miliar per kilometer di tempat lain ada Rp600 miliar bahkan ada yang Rp1 triliun," tegas Luhut di Kantor Kementerian Koordinator Kemaritiman, Jakarta, Senin malam, 25 Juni 2018.

Luhut mengungkapkan besaran proyek LRT itu tergantung jalan layangnya. Semakin tinggi elevatednya maka semakin mahal pula biaya yang dibutuhkan. Adapun pembangunan LRT Sumsel sepanjang ± 23 km dilengkapi dengan 13 stasiun, satu depo, dan sembilan gardu listrik dengan menggunakan lebar jalur rel 1067mm dan third rail electricity 750 VDC yang dimulai sejak Oktober 2015 lalu.

"Tergantung kalau elevated pasti lebih mahal, tergantung leveasi murah mahalnya, jangan sembarangan ambil kesimpulan. Kasihan Prabowo masak pemimpim dikasih info salah," ungkap dia.

Adapun proyek LRT Palembang digarap oleh PT Waskita Karya dengan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Semula  nilai awal proyek sebesar Rp12,5 triliun lalu direvisi menjadi Rp10,9 triliun.

Sebelumnya, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto  mengaku mendapat indeks harga LRT sedunia dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Harga termahal untuk satu kilometer pembangunan LRT hanya USD8 juta. Sedangkan  pembangunan serupa di Indonesia dibanderol USD40 juta.



(SAW)