Perang Dagang Picu Pelemahan Harga Minyak Nabati
Ilustrasi. (FOTO: ANTARA/Feri)
Jakarta: Hubungan dagang Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok kian memanas. 'Negeri Paman Sam' memulai konflik dengan menerapkan tarif pajak tinggi kepada barang dari Tiongkok dan 'Negeri Tirai Bambu' pun tidak tinggal diam. Retaliasi dibalas secara proporsional dengan mengurangi pembelian kedelai dari AS.

Dengan pengurangan pembelian kedelai oleh Tiongkok, stok salah satu komoditas minyak nabati itu di AS melimpah. Di sisi lain, Tiongkok telah mempersiapkan diri dengan munumpuk stok di dalam negeri jauh hari sebelum perselisihan dagang dimulai.

Eskalasi perselisihan dagang kedua negara adikuasa tersebut akhirnya mulai berpengaruh pada produk minyak nabati lainnya, seperti minyak kelapa sawit, rapeseed, dan bunga matahari.

"Melimpahnya stok kedelai AS dan permintaan pasar global yang lemah membuat harga jatuh. Pada saat yang sama, stok minyak nabati lain seperti rapeseed, bunga matahari dan minyak sawit juga cukup menumpuk di negara produsen. Akibatnya harga minyak nabati menurun karena hukum ekonomi berlaku, ketersediaan barang melimpah, permintaan sedikit, maka harga menjadi murah," ujar Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Mukti Sardjono melalui keterangan resmi, Rabu, 11 Juli 2018.

Sepanjang Mei, harga CPO global bergerak di kisaran USD653,6 per metrik ton. Angka tersebut turun dari bulan sebelumnya yang mencapai USD662,2 per metrik ton.

"Harga minyak sawit pada bulan mendatang diperkirakan akan cenderung menurun karena stok minyak sawit Indonesia dan Malaysia yang masih tinggi," ucapnya.

Produksi minyak sawit Tanah Air pada Mei mencapai 4,24 juta ton atau naik 14 persen dari April yang hanya mampu mencapai 3,72 juta ton. Produksi yang meningkat akhirnya mengerek stok minyak sawit Indonesia menjadi 4,76 juta ton lebih tinggi dari stok bulan sebelumnya 3,98 juta ton.

Membaca situasi pasar yang semakin tidak menentu, dengan semakin memanasnya perselisihan dagang AS dan Tiongkok, pemerintah Indonesia diharapkan mulai memberikan perhatian khusus kepada industri minyak sawit agar harga tidak terus merosot.

"Pemerintah sebisa mungkin harus membuat kebijakan untuk meningkatkan konsumsi di dalam negeri dengan menggalakan penggunaan biodiesel yang lebih banyak, mandatori Biodiesel sudah waktunya diterapkan kepada non-PSO untuk mendongkrak konsumsi di dalam negeri," ucap Mukti.

Jika konsumsi di dalam negeri tinggi, lanjutnya, stok akan terjaga sehingga harga di pasar global tidak anjlok. Hal lain yang dapat dilakukan adalah mulai menjajagi pasar Afrika yang masih memiliki potensi besar akan tetapi infrastruktur masih minim. Pemerintah dapat membuat kebijakan seperti menurunkan tarif ekspor minyak goreng kemasan ke negera Afrika. Afrika tidak dapat membeli minyak dalam bentuk curah yang harganya lebih murah daripada kemasan karena tidak memiliki infrastruktur tangki timbun.

 



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id