Ilustrasi. (FOTO: AFP)
Ilustrasi. (FOTO: AFP)

Impor Buah Turun, Impor Laptop Tiongkok Naik

Ekonomi impor bps
Eko Nordiansyah • 15 Maret 2019 12:52
Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor Indonesia mengalami penurunan sebesar 18,61 persen pada Februari 2019 dibandingkan Januari 2019. Pada bulan lalu impor tercatat USD12,20 miliar atau turun dari Januari 2019 yang sebesar USD14,9 miliar.
 
Impor migas pada Februari 2019 tercatat mencapai USD 1,55 miliar atau turun 18,61 persen (mtm) dan turun 30,4 persen (yoy). Sementara impor nonmigas sebesar USD 10,65 miliar atau turun 20,14 persen (mtm) dan turun 10,87 persen (yoy).
 
"Impor barang konsumsi yang turun besar-besar itu buah-buahan, jeruk mandarin, buah pir," kata Kepala BPS Suhariyanto di Kantor Pusat BPS, Jalan dr Sutomo, Jakarta Pusat, Jumat, 15 Maret 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selain buah-buahan, impor mesin AC, beberapa artikel yang terbuat dari plastik, cobalt phone, dan obat-obatan juga mengalami penurunan. Hal ini membuat impor barang konsumsi turun 17,43 persen (mtm) dan turun 26,94 persen (yoy) menjadi sebesar USD1,01 miliar.
 
Meski begitu, impor laptop dari Tiongkok justru mengalami kenaikan pada Februari 2019. Sedangkan impor kendaraan dari Jepang dan Thailand juga mengalami kenaikan pada periode bulan lalu.
 
"Impor yang utama masih dari Tiongkok, yakni berupa laptop. Jepang barangnya vehicle, dan Thailand itu motor vehicle dan komoditas pangan," jelas dia.
 
Sementara itu, impor bahan baku juga turun 21,11 persen (mtm) dan turun 15,04 persen (yoy) menjadi sebesar USD9,01 miliar. Selanjutnya, impor barang modal tercatat sebesar USD 2,19 miliar atau turun 7,09 persen (mtm) dan turun 0,8 persen (yoy).
 
BPS merilis neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus sebesar USD329,5 juta pada Februari 2019. Surplus disebabkan ekspor yang tercatat sebesar USD12,53 miliar, sedangkan impornya sebesar USD12,2 miliar.
 
"Sesudah empat bulan kita mengalami defisit, Alhamdulillah bulan ini kita mengalami surplus," kata Suhariyanto.
 
Pencapaian bulan kedua ini lebih baik jika dibandingkan dengan neraca perdagangan Januari 2019 yang defisit sebesar USD1,16 miliar. Bahkan pada Februari tahun lalu, neraca perdagangan juga defisit USD120 juta.
 
Dirinya menambahkan neraca perdagangan yang mengalami surplus juga dipengaruhi harga komoditas baik migas maupun nonmigas yang membaik. Meski begitu BPS mencatat beberapa komoditas juga masih mengalami penurunan pada bulan lalu.

 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif