Perjanjian IE-CEPA akhirnya diteken. (FOTO: Medcom.id/Annisa Ayu)
Perjanjian IE-CEPA akhirnya diteken. (FOTO: Medcom.id/Annisa Ayu)

Nyaris 8 Tahun Menanti, Perjanjian IE-CEPA Diteken

Ekonomi kementerian perdagangan
Annisa ayu artanti • 17 Desember 2018 08:12
Jakarta: Indonesia dan empat negara European Free Trade Association (EFTA) yakni Swiss, Liechtenstein, Islandia, dan Norwegia akhirnya sepakat menandatangani perjanjian Indonesia EFTA Comprehensive Economic Partnership Agreement (IE-CEPA).

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan perundingan IE-CEPA berlangsung selama hampir delapan tahun. Perundingan ini dinyatakan selesai secara substantif dan dideklarasikan final oleh para menteri pada 23 November 2018 di Jenewa, Swiss.

"Kesepakatan IE-CEPA ini dimotivasi oleh kesadaran atas hubungan ekonomi kita yang mana terefleksikan dari potensi dan terkarakteristikan oleh utilize capacity dan atas develop commentarities," kata Enggartiasto di Kantor Kemendag, Jakarta, Minggu, 16 Desember 2018.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Enggartiasto menjelaskan penandatanganan ini berlangsung di tengah melemahnya perdagangan dunia dan berlanjutnya ketidakpastian perdagangan antarnegara di 2019. Dengan situasi itu, ia meyakini perjanjian ini akan memberikan sinyal positif kepada dunia bahwa hubungan ekonomi yang bersahabat merupakan pilihan terbaik untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. "Indonesia percaya bahwa persetujuan kemitraan ekonomi komprehensif antara Indonesia dan EFTA akan membawa ekonomi Indonesia lebih kuat, berdaya saing, dan menarik bagi investor dari negara-negara maju anggota EFTA," jelas dia.

Ia menambahkan cakupan IE-CEPA sangat luas di antaranya adalah perdagangan barang, perdagangan jasa, investasi, hak kekayaan intelektual, pembangunan berkelanjutan, ketentuan asal dan bea cukai, fasilitas perdagangan, pengamanan perdagangan, persaingan usaha, legal, serta kerja sama dan pengembangan kapasitas.

"IE-CEPA ini ditandatangani sebagai comprehensive solution yang lebih mengkover open market access, menguatkan kepastian hukum kita, meng-improve fasilitation dan ease of doing business sebagaimana menambah pembangunan kapasitas kita dan keberlanjutan kerja sama kita," tutur dia.

Kepala Departemen Hubungan Ekonomi Swiss Johann N. Schneider-Ammann menyatakan perjanjian dengan Indonesia sangat ditunggu pelaku usaha dari negara-negara EFTA. Sejauh ini, katanya hubungan bilateral antara Indonesia dan EFTA masih jauh dari potensi sesungguhnya. Tercatat hasil dari perdagangan bilateral Indonesia-EFTA tahun lalu hanya menghasilkan total nilai USD2,4 miliar.

Sementara itu untuk nilai ekspor Indonesia ke EFTA Enggartiasto kembali menambahkan, hanya tercatat USD1,31 miliar. Sedangkan impor Indonesia dari EFTA sebesar USD1,09 miliar.

Ekspor utama Indonesia ke EFTA antara lain mencakup perhiasan, perangkat optik, emas, perangkat telepon, dan minyak esensial. Sedangkan impor utama Indonesia dari EFTA ada|ah emas, mesin turbo-jet, obat-obatan, pupuk, dan campuran bahan baku industri.

Nilai investasi negara-negara anggota EFTA di Indonesia pada 2017 baru mencapai USD621 juta dan dengan ditandatanganinya lndonesia-EFTA CEPA ini diharapkan lebih banyak lagi investor dari negara-negara EFTA yang menanamkan modalnya di Indonesia.


(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi