Kepala BPS Suhariyanto. FOTO: Medcom.id/Ilham Wibowo.
Kepala BPS Suhariyanto. FOTO: Medcom.id/Ilham Wibowo.

Kenaikan Cukai Rokok Picu Inflasi dalam Skala Kecil

Ekonomi rokok bps tembakau
Desi Angriani • 16 September 2019 13:03
Jakarta: Kenaikan harga rokok eceran sebesar 35 persen berpotensi memicu inflasi dalam skala kecil. Kenaikan harga rokok ini imbas dari penaikan tarif cukai rokok sebesar 23 persen pada 2020.
 
"Ada (picu inflasi), tapi mudah-mudahan enggak besar," kata Kepala BPS Suhariyanto ditemui di Gedung BPS, Pasar Baru, Jakarta, Senin, 16 September 2019.
 
Menurut Suhariyanto, tarif rokok setiap tahunnya memberikan andil terhadap inflasi dari kelompok administered price. Misalnya, harga rokok kretek filter menyumbang 0,01 persen terhadap inflasi bulanan.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Sebenarnya setiap tahun dan setiap bulan ada kontribusinya," imbuh dia.
 
Namun demikian, BPS belum bisa memperkirakan dampak menyeluruh penaikan cukai rokok tersebut terhadap inflasi nasional.
 
"Saya belum tahu dampaknya seberapa jauh kita harus melakukan exercice dulu. Mudah-mudahan tidak terlalu besar," pungkas dia.
 
Adapun pemerintah memutuskan tarif cukai rokok naik menjadi sebesar 23 persen dan harga rokok eceran naik menjadi 35 persen. Keputusan itu berlaku per 1 Januari 2020.
 
Dari penaikan itu, pemerintah memproyeksikan penerimaan cukai tahun depan bisa mencapai Rp173 triliun dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2020.
 
Adapun keputusan penaikan tarif cukai rokok bertujuan untuk mengurangi konsumsi dan peredaran rokok ilegal, mengatur industri, serta menambah penerimaan negara.
 

 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif