Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan. FOTO: MI/Marcel Kelen
Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan. FOTO: MI/Marcel Kelen

Indonesia Incar Pasar Ritel AS

Ekonomi pertumbuhan ekonomi ekspor ekonomi amerika ekonomi indonesia
Suci Sedya Utami • 14 September 2019 09:39
Jakarta: Pemerintah kini tengah memetakan fokus untuk mengambil keuntungan dari pelemahan kondisi ekonomi dunia yang salah satunya disebabkan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Sejauh ini, perang dagang tersebut belum juga kunjung usai.
 
Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan tidak menampik sekarang ini sulit mendapatkan investasi asing. Meski demikian, pemerintah tidak diam begitu saja. Cara lain untuk tetap menghidupkan ekonomi nasional yakni dengan mendorong ekspor.
 
Luhut mengatakan, dalam waktu dekat ini, pemerintah bakal menyusun strategi untuk mendorong ekspor Indonesia ke AS. Adapun pemilihan AS, Luhut menjelaskan, karena perang dagang membuat para suplier barang asal Tiongkok menarik diri dari AS. Artinya ada potensi bagi Indonesia untuk mengisi kekosongan tersebut.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Jadi kita punya target bukan investasi asing langsung yang kita incar, tapu pasarnya AS karena sangat besar sekali," kata Luhut, di Kemenko Maritim, Jumat malam, 13 September 2019.
 
Dirinya mengatakan nilai perdagangan yang diperkirakan keluar dari Negeri Paman Sam tersebut mencapai USD200 miliar. Pemerintah menargetkan agar Indonesia setidaknya bisa mengambil celah sebanyak 10-20 persen dari total nilai tersebut.
 
Luhut bilang Kamar Dagang dan Industri (Kadin) AS optimistis Indonesia bisa masuk dan menggantikan negara yang hengkang dari AS. Bahkan, kata Luhut, dengan reformasi regulasi berupa pemangkasan perizinan penghambat dunia yang kini tengah dilakukan membuat AS berpandangan Indonesia bisa berkompetisi dengan negara lainnya seperti Thailand dan Vietnam.
 
Ia menjelaskan Indonesia dan Kadin AS telah sepakat untuk menjalin kerja sama penguatan ekspor yang telah dirancang sejak dua bulan lalu. "AS melihat Indonesia punya peluang besar sekali untuk ekspor barang-barangnya langsung ke AS," tutur Luhut.
 
Kerja sama ini, lanjutnya, akan dimulai pada 15 Oktober 2019. Luhut mengatakan terdapat tiga kerangka periode peningkatan ekspor. Periode enam bulan pertama yakni berupa barang-barang ritel seperti sepatu, furniture, garmen, tekstil, makanan serta minuman.
 
Peride enam bulan kedua yakni mobil dan enam bulan ketiga yakni komponen mobil listrik. Luhut menyatakan AS tahu apabila Indonesia berencana membuat pabrik baterai lithium untuk kendaraan listrik.
 
"Sampai tahap ketiga kita harapkan kalau itu dapat kan 1,5 tahun ya angkanya (dari 10-20 persen) sekitar USD20 miliar-USD40 miliar. Most likely bisa tercapai. Kalau bisa melebarkan ini semua, market AS sangat bisa menangkap karena kualitas kita bagus kata mereka," jelas Luhut.
 
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengatakan, kerja sama ini diinisiasi oleh asosiasi pengusaha Indonesia dan AS. Dalam waktu dekat pengusaha Indonesia akan diajak untuk road show mengenalkan produk-produknya di toko-toko ritel raksasas AS seperti Walmart.
 
"Jadi konsentrasinya untuk menjual ekspor untuk barang ritel di AS," kata Hariyadi
 
Hariyadi mengatakan dorongan ini ditempuh untuk mengambil peluang dari perang dagang antara AS dan Tiongkok. Ia bilang pihak AS merasa prihatin dengan Indonesia yang terkena dampak dari sisi arus modal masuk.
 
"Mereka prihatin Indonesia enggak kebagian FDI (aliran modal asing). Nah mereka memandang perlu mem-backup Indonesia," jelas Hariyadi.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif