Beras Bulog. Foto : Medcom/Desi A.
Beras Bulog. Foto : Medcom/Desi A.

Kelebihan Pasokan, Bulog hanya Keluarkan 3.000 Ton Beras/Hari

Ekonomi bulog
Ilham wibowo • 03 Desember 2019 17:35
Jakarta: Perum Bulog sepanjang tahun ini tercatat hanya mampu mengeluarkan beras dari gudang sekitar satu juta ton beras kepada masyarakat. Sulitnya penyaluran beras ini lantaran pasar Bulog yang semakin sempit di penugasan negara dan sektor komersial yang belum optimal.
 
Secara rinci, alokasi penyaluran beras terbesar merupakan dalam bentuk operasi pasar dan bantuan bencana alam yakni mencapai 491 ribu ton disusul untuk kebutuhan beras sejahtera (Rastra) 353 ribu ton. Sementara penjualan komersial Bulog hanya mampu menjual sebanyak 200 ribu ton.
 
Volume tersebut dinilai masih sangat kecil mengingat stok pembuka perseroan pada awal tahun ini mencapai 2,1 juta ton. Serapan beras petani lokal sepanjang 2019 yang mencapai 1,1 juta ton juga menambah stok perseroan dengan persediaan sampai 3,2 juta ton.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dengan penyaluran yang telah dilakukan, Bulog masih menyimpan stok sekitar 2,1 juta ton. Kepastian pangsa pasar yang besar untuk stok tersebut hingga saat ini masih belum mendapatkan kejelasan.
 
"Pasar itu sedang jenuh, stok di lapangan sangat banyak, kami per hari hanya bisa menggelontorkan 3.000 ton, padahal perintah Kemendag itu 5.000 ton per hari," ujar Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Tri Wahyudi Saleh di kantor Bulog, Jakarta, Selasa, 3 Desember 2019.
 
Melihat kondisi tersebut, perseroan pun mengusulkan penambahan alokasi pemberian beras kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) pada program Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT). Alokasinya, disesuaikan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) yakni kebutuhan beras rata-rata per keluarga mencapai 30 kg per bulan.
 
Saat ini, dalam program BPNT setiap KPM mendapat jatah beras sebanyak delapan kilogram (kg) per bulan. Jumlah tersebut belum cukup untuk Bulog bisa merealisasikan target peningkaan usaha.
 
"Kami usulkan ditambah jadi 20 kg per bulan, sebanyak 10 kg dipasok dari Bulog, itu sudah cukup untuk menyelamatkan stok Bulog saat ini," ungkapnya.
 
Berdasarkan data Bulog, penyaluran rastra terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Pada 2015, jumlah rastra yang tersalur mencapai 3,26 juta ton, turun menjadi 2,79 juta ton pada 2016 dan kembali merosot tipis ke 2,55 juta ton pada 2017.
 
Penurunan signifikan terjadi pada 2018 ketika penyaluran hanya 1,21 juta ton dan untuk tahun ini, pembagian rastra hanya ditetapkan 353 ribu ton.
 
Melimpahnya stok itu pun bisa menjadi persoalan serius. Beras-beras yang ada di gudang berpotensi mengalami penurunan mutu atau kerusakan yang akhirnya menurunkan nilai jual yang mesti ditanggung Bulog.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif