Sepeda Bambu Indonesia Curi Perhatian Jepang
Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan Arlinda. (FOTO: Medcom.id/Ilham Wibowo)
Jakarta: Produk-produk Indonesia sukses berlaga pada kompetisi desain berskala internasional dalam ajang Good Design Award (G-Mark) ke-62 di Tokyo, Jepang. Kondisi ini diyakini bakal meningkatkan penjualan ekspor ke mancanegara.

Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan (Kemendag) Arlinda mengatakan ada tujuh produk yang menyabet penghargaan bergengsi ini. Seluruhnya difasilitasi Kemendag sebagai pengembangan inovasi produk asli buatan Tanah Air.

Sepeda Bambu karya Singgih Kartono dianugerahi sebagai G-Mark Best 100 dalam ajang ini. Sementara produk Indonesia lainnya meraih G-Mark Good Design, yaitu mobil Daihatsu Terios karya Mark Widjaja; Kursi Lukis Armchair karya Abie Abdillah; Kain Bamboo Batik Stole karya Lusiana Limono; Arang Gambar (Charcoal) karya Jindee Chua, Suriawati Qiu, dan Merlins; Lubang Angin 'Dashdot' karya Zenin Adrian, serta Cold Drip Coffee Maker karya Ronald Malone.

"Kami turut bangga dengan keberhasilan produk-produk tersebut menjadi pemenang G-Mark 2018. Diharapkan dengan keberhasilan internasional ini, dapat membuka peluang bagi produk dalam negeri untuk diterima di berbagai pasar ekspor, terutama Jepang yang merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia," ungkap Arlinda melalui keterangan resminya, Jumat, 2 November 2018.

Pada ajang G-Mark tahun ini, terdapat 17 produk Indonesia yang difasilitasi oleh Ditjen PEN. Dari jumlah tersebut, 14 di antaranya merupakan pemenang Good Design Indonesia (GDI) 2017 dan 2018 untuk kategori GDI of the Year dan GDI Best. Sementara tiga produk lainnya mengikuti G-Mark melalui ajang ASEAN Design Selection, yang merupakan kerja sama antara Ditjen PEN dengan ASEAN-Japan Center (AJC).

"Kementerian Perdagangan, dalam hal ini Ditjen PEN, berkomitmen mendukung pengembangan  sektor desain di dalam negeri. Untuk itu, kami mendorong para pelaku usaha dapat berkolaborasi dengan desainer-desainer dalam negeri yang sudah banyak berprestasi di ajang berskala Internasional," ujarnya.

Menurut Arlinda, untuk mendongkrak kinerja ekspor nonmigas, produk Indonesia harus memiliki nilai tambah dan daya saing. "Di sinilah peran suatu desain yang kreatif dan inovatif, yaitu mampu menciptakan produk-produk yang tidak hanya unggul dari sisi bahan baku, tetapi juga mampu menyesuaikan dengan tren dan selera konsumen dunia yang dinamis," imbuhnya.

Ia menambahkan, pendaftaran GDI ke-3 akan kembali dibuka Januari 2019. Dalam dua tahun penyelenggaraan GDI, terlihat adanya peningkatan antusiasme desainer lokal dan pelaku usaha dalam negeri untuk berpartisipasi pada perhelatan berskala nasional ini.

Tercatat sebanyak 253 produk yang didaftarkan selama masa pembukaan registrasi daring GDI  2018. Jumlah tersebut menunjukkan adanya kenaikan signifikan sebesar 88,8 persen dibandingkan GDI 2017 dengan jumlah peserta hanya 134.

Sama seperti sebelumnya, pendaftaran akan dibuka secara daring melalui situs id-designmark.org. Ajang ini dilakukan melalui kerja sama antara Ditjen PEN dan Japan Institute of Design Promotion (JDP) sebagai pihak penyelenggara Good Design Award.

Produk-produk lokal yang berhasil meraih anugerah GDI akan langsung dinyatakan lolos seleksi G-Mark tahap pertama dan dapat langsung mengikuti seleksi tahap ke-2. Selanjutnya, Ditjen PEN memfasilitasi produk-produk pemenang mulai dari pendaftaran G-Mark, pengiriman produk ke Jepang, partisipasi pada pameran G-Mark, hingga pengiriman kembali produk-produk ke Indonesia.

"Pendaftaran GDI tahun depan akan dibuka mulai Januari 2019. Masa pendaftaran yang lebih awal ini bertujuan untuk menyesuaikan dengan pelaksanaan penjurian tahap ke-2 Good Design Award di Jepang, yang berlangsung pada akhir Juli atau awal Agustus setiap tahunnya," pungkas Arlinda.



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id