UMKM. MI/Sunflawers.
UMKM. MI/Sunflawers.

Banyak IKM Belum Miliki Budaya Kerja yang Baik

Ekonomi umkm
24 Maret 2019 11:09
Jakarta: Para pelaku di kalangan Industri Kecil dan Menengah (IKM) di Indonesia pada umumnya telah memiliki pengalaman selama puluhan tahun di bidang mereka masing-masing. Sayangnya dalam melakukan aktivitas sehari-hari mereka belum memiliki budaya kerja yang baik akibat minimnya informasi dan bimbingan dari pihak-pihak terkait.
 
Saat menyaksikan langsung proses pengecoran logam IKM di kawasan Ceper, Klaten, Jawa Tengah beberapa tahun silam, Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Warih Andang Thajono mengaku prihatin melihat kondisi lingkungan kerja yang berada di sana.
 
"Lantainya masih tanah dan kumuh, para pekerjanya pun hanya memakai sendal tanpa alat pengaman lainnya," ujar Warih dikutip dari Media Indonesia, Minggu, 24 Maret 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hal itu dibenarkan oleh Ketua KBJ Badrul Munir. Ia mengatakan bahwa untuk menanamkan budaya peduli terhadap keselamatan kerja pada karyawannya saja butuh waktu lama. Berbagai cara dilakukan untuk segera bisa menciptakan lingkungan sesuai dengan standar keselamatan sebuah industri yang benar.
 
"Saat ditegur mereka melaksanakan, tapi besoknya mereka kembali lagi dengan kebiasaan lama," ungkap Badrul.
 
Sampai akhirnya ia harus terpaksa menerapkan aturan yang berkesan keras dan kejam.
 
"Kalau kamu tidak mau memakai helm dan sepatu, mendingan kamu pulang saja. Tidak usah kerja," kenangnya.
 
Selain masalah sumber daya manusia, produk yang dihasilkan oleh industri kecil pengecoran logam umumnya juga belum menerapkan standar yang baku.
 
Misalnya saja soal komposisi dari kandungan sebuah komponen yang hanya mengandalkan dari perkiraan. Padahal sebuah komponen logam terutama untuk otomotif harus memiliki komposisi yang sesuai dengan persyaratan yang terkait berbagai aspek mulai dari durability, hingga lingkungan dimana komponen itu terpasang.
 
"Yang kami kuasai saat itu baru sampai tahap kepresisian bentuk dan ukuran. Untuk komposisi campuran logam kami masih belum," aku Badrul.
 
Oleh karena itu ia bersyukur pihak TMMIN memberikan Spectrometer yaitu alat yang mampu menganalisis kandungan logam secara akurat sehingga komponen logam yang dihasilkan dapat memenuhi spesifikasi yang sesuai dengan persyaratan dan kebutuhan konsumen.
 
Selain memberikan alat Spectrometer, TMMIN juga mendonasikan empat mesin produksi yaitu Core Making, Moulding, Small NC Milling, dan Small Milling kepada KBJ. Untuk memastikan program berjalan dengan benar, TMMIN juga terus melakukan pendampingan dan bimbingan yang dibutuhkan.
 
"Pelatihan dan pendampingan dengan metode yang tepat, rekonstruksi ulang dengan standardisasi Toyota, dan bantuan mesin produksi, membawa Koperasi Batur Jaya memenuhi persyaratan tinggi dari sisi kualitas, produktivitas, teknologi, dan kontinuitas suplai. Proses yang tidak instan dan kerja keras yang konsisten ini menunjukkan semangat pantang menyerah dari IKM otomotif di Indonesia," papar Warih.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif