Kepala BPS Suhariyanto. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)
Kepala BPS Suhariyanto. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)

Ekspor RI Merosot 6,94% Sepanjang 2019

Ekonomi bps ekspor-impor
Husen Miftahudin • 15 Januari 2020 13:50
Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan total ekspor Indonesia selama 2019 tercatat sebesar USD167,53 miliar. Namun jumlah ekspor tersebut mengalami penurunan tajam bila dibandingkan realisasi ekspor pada tahun sebelumnya yang mencapai sebanyak USD180,01 miliar.
 
"Total ekspor kita selama 2019 sebesar USD167,53 miliar kalau kita bandingkan dengan posisi 2018 memang penurunannya lumayan tajam, yaitu turun sebesar 6,94 persen," kata Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers di gedung BPS, Jalan Dr Sutomo, Jakarta Pusat, Rabu, 15 Januari 2020.
 
Selain itu, ungkap Suhariyanto, ekspor kumulatif nonmigas juga mengalami penurunan cukup signifikan sebesar 4,82 persen menjadi USD154,99 miliar. Dari sisi volume, ekspor Indonesia selama Januari-Desember 2019 meningkat 7,64 persen ketimbang periode sama tahun lalu. Peningkatan volume disumbang oleh kenaikan ekspor nonmigas sebesar 9,82 persen.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Berdasarkan golongan barang utama HS dua digit selama 2019, mayoritas ekspornya mengalami penurunan. Paling signifikan terjadi pada golongan barang alas kaki (HS 64) yang ekspornya turun 13,70 persen.
 
Kemudian lemak dan minyak hewan nabati (HS 15) yang ekspornya anjlok 13,44 persen; bahan bakar mineral (HS 27) turun 9,70 persen; mesin dan peralatan mekanis (HS 84) melorot 7,41 persen; karet dan barang dari karet (HS 40) turun 5,60 persen; serta mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85) yang juga turun 3,55 persen.
 

"Meskipun demikian, ada beberapa golongan barang HS dua digit yang mengalami peningkatan ekspor. Misalnya untuk ekspor besi dan baja (HS 72) naik 28,76 persen," ungkapnya.
 
Menurut sektor, jelas Suhariyanto, ekspor nonmigas Indonesia hasi industri pengolahan selama Januari-Desember 2019 turun 2,73 persen dibandingkan dengan periode yang sama 2018, ekspor hasil tambang dan lainnya juga turun 15,30 persen. Sedangkan ekspor hasil pertanian naik 5,31 persen.
 
Penurunan ini disumbang oleh menurunnya ekspor minyak kelapa sawit. Demikian juga ekspor produk pertambangan dan lainnya yang anjlok 15,30 persen yang disumbang oleh menurunnya ekspor bijih tembaga. Sementara ekspor produk pertanian meningkat 5,31 persen yang disebabkan oleh meningkatnya ekspor sarang burung.
 
"Ekspor dari sektor pertanian merupakan satu-satunya sektor yang tumbuh meskipun share-nya kecil. Ke depan tentunya kita berharap bahwa kontribusi dari sektor pertanian akan meningkat sehingga mampu meningkatkan total ekspor kita," harapnya.
 
Adapun tujuan utama ekspor Indonesia selama periode Januari-Desember 2019 masih didominasi oleh Tiongkok dengan pangsa 16,68 persen senilai USD25,85 miliar. Diikuti Amerika Serikat dengan nilai USD17,68 (11,41 persen), dan Jepang dengan nilai USD13,75 (8,87 persen).
 
"Kalau kita bicara ekspor ke ASEAN itu share-nya 23 persen, sementara ke Uni Eropa itu 9,24 persen. Adapaun komoditas utama yang diekspor ke Tiongkok pada periode tersebut adalah batu bara, besi atau baja, dan minyak kelapa sawit," pungkas Suhariyanto.
 

(DEV)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif