Ilustrasi (MI/RAMDANI)
Ilustrasi (MI/RAMDANI)

Ekonomi Berpeluang Tumbuh 5,2% di Tahun Politik

Ekonomi pertumbuhan ekonomi ekonomi indonesia
Desi Angriani • 13 Desember 2018 07:45
Jakarta: Pertumbuhan ekonomi di tahun politik 2019 diproyeksikan mencapai angka 5,2 persen secara tahun ke tahun (yoy). Ekonomi tumbuh direntang itu karena didorong oleh konsumsi masyarakat yang menggeliat dan belanja pemerintah yang semakin kuat.
 
"Kalau kami perkirakan sekitar 5,2-5,3 persen, konsumsi masyarakat masih dan belanja pemerintah (mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia)," ujar Pengurus Pusat ISEI Destri Damayanti, kepada Medcom.id saat ditemui di Kantor Pusat KAHMI, Jakarta Selatan, Rabu malam, 12 Desember 2018.
 
Destri menjelaskan kenaikan pertumbuhan konsumsi rumah tangga memberikan pengaruh besar terhadap pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB). Pasalnya, 56 persen perekonomian Indonesia ditopang oleh kontribusi konsumsi rumah tangga. Dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi 5,2 persen maka pertumbuhan konsumsi diramal berada di atas lima persen.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Sebelumnya kita melihat kajian dampak pemilu itu konsumsi masyarakat, dan belanja-belanja para caleg," imbuh dia.
 
Sebaliknya, pertumbuhan investasi diperkirakan melambat pada semester pertama 2019. Hal ini dikarenakan para investor masih menunggu alias wait and see terhadap Pemilu Presiden. Investasi, kata Destri, baru akan kembali normal setelah publik mengetahui siapa Presiden dan Wakil Presiden terpilih.
 
"Setelah ada kepastian siapa Presidennya investasi bakal kembali naik, siapapun Presidennya mereka pasti tahu kalau Presidennya ini kebijakannya ini. Apalagi di tahun pertama kebijakannya akan pro people, pro investor, dan pro growth," tambah dia.
 
Untuk tingkat inflasi Indonesia pada 2019 diperkirakan berada di kisaran 3,2 sampai 3,5 persen. Namun demikian, perekonomian Indonesia masih rentan terhadap defisit neraca transaksi berjalan. Current Account Deficit (CAD) Indonesia pada 2019 diperkirakan di kisaran 2,8 hingga 2,9 persen dari PDB.
 
Adapun pelebaran CAD akan terus terjadi selama investasi swasta lebih banyak dibiayai oleh utang luar negeri. Namun, hal itu tidak perlu dikhawatirkan sepanjang digunakan secara produktif. "Tidak masalah sepanjang angkanya reasonable. CAD itu ibaratnya kita baru lulus nih pasti punya kebutuhan," pungkasnya.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif