NEWSTICKER
Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto - - Foto/ Puspa P
Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto - - Foto/ Puspa P

Pemerintah Jaga Daya Beli Demi Pertumbuhan Ekonomi 5%

Ekonomi pertumbuhan ekonomi Virus Korona daya beli masyarakat
Media Indonesia • 22 Februari 2020 11:00
Jakarta: Menteri Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan pemerintah menjaga penguatan daya beli demi mempertahankan pertumbuhan ekonomi Indonesia di level lima persen. Hal ini menyusul dampak penyebaran virus korona terhadap perekonomian dunia.
 
"Tentu yang perlu kita jaga dalam negeri adalah buying power; (daya beli) agar ekonomi tidak turun," kata Menko Perekonomian Airlangga Hartarto saat ditemui di Jakarta, Jumat, 21 Februari 2020.
 
Ia menjelaskan penyebaran virus korona akan berpengaruh kepada kondisi global, termasuk Indonesia, sehingga perlu diantisipasi. Karena itu, penguatan daya beli ini menjadi penting untuk menjaga kinerja konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi pendukung utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Meski demikian, ia belum dapat memperkirakan dampak kejadian ini kepada proyeksi pertumbuhan ekonomi 5,3 persen pada akhir tahun, termasuk melakukan revisi target. "Kita juga masih monitor setiap bulan dan tren seperti apa," kata Airlangga.
 
Sebelumnya, Bank Indonesia merevisi pertumbuhan ekonomi pada 2020 menjadi 5,0-5,4 persen, dari sebelumnya 5,1-5,5 persen. Bank sentral bahkan memproyeksikan perekonomian pada triwulan I-2020 hanya tumbuh pada kisaran 4,9 persen karena terdampak oleh kondisi global yang terpengaruh penyebaran virus korona.
 
Kendati terdapat potensi penurunan pertumbuhan ekonomi, outlook pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai masih dalam kondisi positif di tengah isu pengaruh penyebaran virus korona. Pasalnya, meski sebagian besar impor berasal dari Tiongkok pengaruhnya tidak signifikan.
 
"Setiap satu persen ekonomi Tiongkok kontraksi cuma 0,09 persen terhadap ekonomi Indonesia. Ya, maksimal 0,1 persen, itu besar betul GDP (gross domestic product) kita," ungkap pengamat ekonomi Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi dalam acara Prudential Masterclass, di Jakarta.
 

(Des)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif