Pertamina dan KESDM Diminta Monitor Kenaikan Impor Migas
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (MI/ARYA MANGGALA)
Jakarta: Kementerian Keuangan (Kemenkeu) meminta kepada PT Pertamina (Persero) dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk memonitor kenaikan impor migas. Pasalnya impor migas menjadi pemicu defisit neraca perdagangan Oktober 2018.

"Karena dilihat dari volume impor solar, justru terjadi kenaikan. Dari devisa impor, kenaikan tinggi," kata Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati, di Gedung Kementerian Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Jakarta Pusat, Kamis, 15 November 2018.

Dirinya menambahkan kenaikan devisa impor migas memang disebabkan oleh banyak faktor. Selain karena kenaikan harga minyak, kenaikan devisa impor migas juga dikarenakan kenaikan dolar Amerika Serikat (USD) sehingga harga impor yang dibayarkan menjadi lebih mahal.

Sementara itu, langkah pemerintah mewajibkan penggunaan biodiesel sebesar 20 persen (B20) dinilai belum berdampak signifikan. Padahal kewajiban B20 untuk solar subsidi dan nonsubsidi diharapkan bisa mengurangi impor migas, khususnya impor solar.

"Kita melihat pelaksanaan B20 ini dari 1 September hingga 13 November belum menunjukkan adanya penurunan impor solar, baik dari sisi volume dan tentu saja dari sisi devisa BUMN kita sendiri. Ini yang perlu diperbaiki," jelas dia.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia Oktober 2018 mengalami defisit sebesar USD1,82 miliar. Defisit dipicu oleh impor yang meningkat 20,60 persen atau sebesar USD17,62 miliar. Peningkatan impor menyebabkan defisit di sektor migas sebesar USD1,43 miliar dan sektor nonmigas USD0,39 miliar.



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id