Ilustrasi petani tembakau. Foto: Antara/Adeng Bustomi
Ilustrasi petani tembakau. Foto: Antara/Adeng Bustomi

Pemerintah Diminta tak Naikkan Cukai SKT untuk Melindungi Petani

Ekonomi industri rokok cukai tembakau
Eko Nordiansyah • 28 September 2020 19:38
Jakarta: Pemerintah diminta untuk melindungi petani tembakau dan cengkih melalui kebijakan yang berpihak pada segmen padat karya, yaitu sigaret kretek tangan (SKT). Salah satunya adalah dengan tidak menaikkan tarif cukai dan harga jual eceran segmen SKT yang banyak menyerap tembakau dan cengkih.
 
Presiden Direktur PT HM Sampoerna Tbk Mindaugas Trumpaitis mengatakan kenaikan tarif pada SKT dapat menurunkan jumlah permintaan sehingga berimbas pada serapan tembakau dan cengkih. Pasalnya kebutuhan tembakau untuk rokok SKT lebih besar dibandingkan dengan rokok buatan mesin.
 
"Di dalam satu batang rokok SKT, terdapat dua gram tembakau. Hal ini jauh lebih banyak ketimbang rokok buatan mesin. Satu batang rokok buatan mesin berkisar antara 0,7 gram sampai satu gram," kata dia, melalui keterangan resmi, Senin, 28 September 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kebijakan ini dinilai penting bagi kelangsungan hidup para petani tembakau dan cengkih, yang terimbas akibat pandemi covid-19, serta kenaikan tarif cukai pada 2020. Hingga semester I-2020, volume industri hasil tembakau mengalami penurunan hingga 15 persen dan diperkirakan masih akan terimbas pandemi covid-19 pada 2021.
 
Mindaugas mengatakan, Sampoerna bersama pemasok tembakaunya mendorong produksi yang berkelanjutan melalui program kemitraan 'Sistem Produksi Terpadu' sejak 2009. Program kemitraan ini menjangkau lebih 27 ribu petani yang mendapatkan dukungan teknis, termasuk bantuan pertanian berupa mesin penyiang, serta jaminan serapan panen sesuai kualitas dan kuantitas yang disepakati.
 
"Sekali lagi, rekomendasi pertama adalah untuk fokus pada perlindungan segmen SKT karena hal ini membantu keseluruhan ekosistem industri hasil tembakau, dari manufaktur hingga petani, termasuk petani tembakau dan cengkih," ungkap Mindaugas.
 
Ia menambahkan, semasa pandemi covid-19 ini para petani binaan juga menerima bantuan paket APD dan kebersihan sehingga mereka dapat tetap produktif dan terhindar dari penularan virus tersebut selama beraktivitas.
 
Direktur Tanaman Semusim dan Rempah Kementerian Pertanian Hendratmojo Bagus Hudoro sebelumnya mengatakan bahwa kemitraan bisa menjadi solusi. Pasalnya dengan sistem kemitraan, pabrikan atau industri mendapatkan pasokan yang berkelanjutan.
 
Bagus mengharapkan petani yang mulai melakukan pembibitan atau pemasaran dipersilakan bergabung dengan kemitraan. Bila petani kesulitan benih atau membutuhkan akses pupuk, bisa difasilitasi lewat kemitraan.
 
"Kemitraan adalah solusi untuk pengembangan tembakau secara berkelanjutan. Pasokan industri terjamin, masa depan petani tembakau juga terjamin. Bahkan kesulitan permodalan, (bisa diatasi) lewat kemitraan," ujar Bagus.
 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif