Ilustrasi. Foto : AFP.
Ilustrasi. Foto : AFP.

5 Strategi BI Kejar Pertumbuhan Ekonomi 5,3% di 2020

Ekonomi ekonomi indonesia
Husen Miftahudin • 29 Oktober 2019 15:48
Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memproyeksi pertumbuhan ekonomi nasional di tahun depan bisa mencapai 5,3 persen (yoy). Tentu ramalan tersebut bisa terealisasi dengan berbagai strategi dan sinergi kebijakan antara bank sentral bersama pemerintah.
 
"Tahun depan insyaallah bisa mendekati 5,3 persen setidaknya bisa 5,2 persen. Kalau ada stimulus fiskal bisa tambah mendekati 5,3 persen," ujar Perry usai menghadiri acara Asia's Trade and Economic Priorities di Hotel Fairmont, Jalan Asia Afrika, Senayan, Jakarta Selatan, Selasa, 29 Oktober 2019.
 
Adapun lima strategi yang dilakukan, pertama, sinergi bauran kebijakan Bank Indonesia antara moneter dan makroprudensial dengan stabilitas sistem keuangan yang terjaga melalui upaya dukungan pertumbuhan ekonomi (pro growth). Bank sentral sudah melakukan hal ini melalui penurunan suku bunga acuan secara berturut-turut.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kita sudah turunkan suku bunga berturut-turut, sekarang lima persen. Dan juga kita relaksasi makroprudensial, uang muka perumahan, maupun lain-lain," jelasnya.
 
Dari pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu), sebut Perry, juga memberikan stimulus fiskal lewat pengeluaran anggaran yang terus didorong. Meskipun defisit fiskal mengalami kenaikan dari 1,7 persen menjadi 2,2 persen, hal tersebut masih terkendali dan mampu memberikan stimulus pertumbuhan ekonomi.
 
"Kita juga berkoordinasi untuk mendorong ekonomi keuangan digital melalui visi Sistem Pembayaran Indonesia 2025. Itu fokus kita dalam memperkuat stabilitas, eksternal, dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi," tegas dia.
 
Kedua, lanjutnya, hal ini juga untuk memperkuat sinergi untuk mencari sumber sumber pertumbuhan baru. Di antaranya pengembangan kawasan manufaktur seperti otomotif, tekstil, elektronik. Kemudian mendorong pariwisata, pengembangan UMKM, ekonomi keuangan digital, dan juga pengembangan sektor maritim.
 
Selanjutnya, terus melakukan transformasi ekonomi dengan pemangkasan izin-izin investasi dan juga pengembangan infrastruktur untuk mendorong pengembangan kawasan ekonomi maupun pariwisata. Termasuk reformasi, transformasi ekonomi untuk mendukung pertumbuhan khususnya untuk sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru.
 
Nomor empat adalah terus menggalang kerja sama dengan berbagai negara, baik bilateral maupun regional untuk mendorong perdagangan dan investasi. Upaya ini dilakukan melalui ASEAN, APEC, maupun kerja sama bilateral.
 
"Free Trade Aggrement dengan Australia, dengan EU, termasuk juga regional cooperation and economic dengan India. Dan juga mencari pasar-pasar baru seperti Afrika, sehingga kita bisa memperkuat sumber pertumbuhan dari luar negeri, baik melalui perdagangan maupun investasi," ungkap Perry.
 
Terakhir, memperkuat kerja sama keuangan regional melalui ASEAN Plus Three bersama dengan Jepang, Tiongkok, dan Korea. Langkah ini bisa memperkuat ketahanan keuangan, tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga di kawasan ASEAN Plus Three.
 
"Lima hal itu yang menjadi fokus dari kita di Indonesia. Demikian tentu saja IBER (Indonesian Bureau of Economic Research), ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia), dan berbagai organisasi-organisasi profesi ini bisa memberikan sumbang saran dan pemikiran untuk sama-sama menjaga stabilitas dan ketahanan ekonomi kita dan terus mendorong ekonomi kita untuk momentumnya pertumbuhan berlanjut. Insyaallah kalau ini dilakukan, cita-cita kita di tahun 2045 menjadi negara yang ekonomi maju dengan pendapatan tinggi insyaallah bisa tercapai," tutup Perry.

 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif