Menko Perekonomian Darmin Nasution. (FOTO: Medcom.id/Kautsar Widya)
Menko Perekonomian Darmin Nasution. (FOTO: Medcom.id/Kautsar Widya)

Perang Dagang Masih Menantang

Ekonomi as-tiongkok Perang dagang
Husen Miftahudin • 22 Maret 2019 19:15
Jakarta: Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok disebut masih menjadi tantangan berat bagi perekonomian Indonesia. Maju mundurnya negosiasi kedua negara itu membuat ekspor RI melambat.
 
"Dua negara itu tujuan ekspor terbesar kita. Jadi kalau dia mengalami kerugian dua-duanya, ya berikutnya kita juga ikut rugi," ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasutiondi kantor Kemenko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng Timur, Jakarta Pusat, Jumat, 22 Maret 2019.
 
Menurut Darmin, ekspor komoditas Indonesia paling terasa dampaknya ketika AS dan Tiongkok masih bersitegang. Maklum, kedua negara itu masih menjadi tujuan utama ekspor komoditas RI.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Oleh karena itu, buat kita kalau perang dagang itu dapat diredam apalagi bisa diselesaikan, akan baik sekali," harap Darmin.
 
Ia mengatakan perang dagang AS-Tiongkok membuat kedua negara itu juga menanggung rugi. Tiongkok disebut lebih terdampak mengingat pertumbuhan ekonomi Negeri Tirai Bambu itu merosot dari 6,9 persen menjadi 6,6 persen di 2018.
 
"Penurunan pertumbuhan (ekonomi) Tiongkok lebih banyak, walau Amerika juga pada dasarnya tidak tinggi pertumbuhan ekonominya," ungkap Darmin.
 
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor Indonesia sepanjang 2018 sebanyak USD180,06 miliar, meningkat 6,65 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Dari angka tersebut, Tiongkok dan AS menjadi negara tujuan ekspor terbesar dengan nilai masing-masing USD24,39 miliar (15 persen) dan USD17,67 miliar (10,87 persen).
 
Sementara pada Januari-Februari 2019, nilai ekspor RI tercatat sebanyak USD26,46 miliar atau turun 7,76 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pada periode ini, Tiongkok menyumbang 13,52 persen dengan nilai USD3,26 miliar, sedangkan AS sebanyak USD2,78 miliar atau menyumbang 11,54 persen.
 
"Jadi sekarang masalahnya selalu dengan perang dagang, sekali dimulai menghentikannya juga tidak mudah. Perang dagang ini dampaknya lebih besar untuk kita," tutup Darmin.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif