Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad - - Foto: Medcom.id/ Ilham Wibowo
Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad - - Foto: Medcom.id/ Ilham Wibowo

Faktor Global Bukan Penyebab Ekonomi RI Melempem

Ekonomi pertumbuhan ekonomi ekonomi indonesia
Ilham wibowo • 06 Februari 2020 16:31
Jakarta: Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyebut gejolak eksternal bukan penyebab utama melambatnya ekonomi Indonesia. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi dalam negeri masih ditopang oleh permintaan domestik.
 
"Kita tumbuhnya lebih rendah dari tahun lalu, istilahnya kita sudah tambah ekstra effort ternyata kita tetap melempem, ini cukup mengkhawatirkan," kata Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad dalam sebuah diskusi di Rantang Ibu, ITS Office Tower Pejaten, Jakarta, Kamis, 6 Februari 2020.
 
Menurutnya pertumbuhan ekonomi tidak bisa hanya melihat penurunan kinerja ekspor dan impor. Terbukti perlambatan konsumsi rumah tangga di kuartal IV-2019 tak dapat mendongkrak realiasi pertumbuhan ekonomi secara tahunan.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tercatat ekonomi akhir tahun lalu tumbuh melambat sebesar 4,97 persen yoy dibandingkan dengan triwulan-triwulan sebelumnya. Secara keseluruhan perekonomian Indonesia 2019 hanya tumbuh 5,02 persen yoy atau lebih rendah dari target APBN 2019 yang sebesar 5,3 persen yoy.
 
Secara siklus, kuartal IV-2019 adalah periode yang sering memberi harapan bagi akselerasi perekonomian karena terdapat perayaan hari besar keagamaan seperti Natal dan libur akhir tahun.
 
"Sesungguhnya ada faktor domestik yang tidak pernah kita perkirakan, konsusmi rumah tangga di kuartal IV-2019 biasanya di atas lima persen hanya 4,97 persen secara tahunan," paparnya.
 
Wakil Direktur Indef Eko Listiyanto menambahkan selama ini keterbukaan ekonomi nasional terhadap ekonomi global relatif terbatas. Porsi ekspor barang dan jasa tidak lebih dari 20 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
 
"Kita enggak banyak terbuka dari asing jadi kalau narasinya global sebabkan ekonomi melambat, mungkin (pemerintah) kesulitan cari analisa lain," kata Eko.
 
Selain itu, investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) baru setiap tahunnya juga tidak cukup tinggi, hanya 2,65 persen terhadap PDB pada 2019. Sedangkan, porsi penanaman modal asing (PMA) baru setiap tahunnya terhadap keseluruhan investasi tidak lebih dari 10 persen.
 
"Data-data tersebut dapat menyimpulkan bahwa kekuatan ekonomi Indonesia justru berada di sisi domestik, sehingga tidak ada alasan untuk tumbuh rendah selama komponen domestik bisa dipacu," tuturnya.
 
Problematika utama rendahnya pertumbuhan ekonomi pada 2019 sebesar 5,02 persen secara tahunan disebabkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang melambat pada kuartal IV-2019. Di sisi lain, konsumsi kelas atas bahkan rata-rata hanya tumbuh 3,57 persen selama lima tahun terakhir padahal porsi dalam total pengeluaran mencapai 45,36 persen.
 
Sementara itu, rata-rata pertumbuhan pengeluaran kelompok berpengeluaran sedang memang masih menjadi yang tertinggi namun hanya menyentuh 6,06 persen dengan porsinya dalam total pengeluaran 36,93 persen. Sedangkan kelompok berpengeluaran bawah tumbuh hanya 5,21 persen dengan porsinya 17,71 persen.

 

(Des)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif