Ilustrasi. Foto: dok MI/Andri Widiyanto.
Ilustrasi. Foto: dok MI/Andri Widiyanto.

Kenaikan Outlook S&P Jadi Stabil, Angin Segar bagi Perekonomian

Ekonomi Pertumbuhan Ekonomi Kementerian Keuangan Ekonomi Indonesia pandemi covid-19
Eko Nordiansyah • 01 Mei 2022 11:07
Jakarta: Lembaga Pemeringkat Kredit Standard and Poor's (S&P) telah mempertahankan peringkat atau rating kredit Indonesia pada posisi BBB dan merevisi outlook Indonesia dari sebelumnya negative menjadi stable. Dipertahankannya peringkat kredit ini diharapkan dapat membawa angin segar bagi perekonomian Indonesia.
 
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Luky Alfirman mengatakan, penilaian S&P ini diharapkan bisa membantu upaya pemulihan pertumbuhan ekonomi yang sempat terdampak pandemi covid-19. Apalagi berbagai kebijakan telah diambil pemerintah dalam memulihkan perekonomian.
 
"Peningkatan outlook ini menyiratkan kebijakan Pemerintah sudah pada jalur yang tepat dan memberikan tantangan bagi Pemerintah untuk tetap konsisten mengelola perekonomian dan kebijakan fiskal (APBN) sehingga dampaknya dapat terus dijaga secara berkelanjutan," kata dia dilansir dari laman resmi Kemenkeu, Minggu, 1 Mei 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut penilaian S&P, kebijakan penanganan pandemi covid-19 serta pengelolaan kebijakan makroekonomi, seperti fiskal, moneter, sektor keuangan dan sektor riil, telah efektif dalam mendukung resiliensi kinerja perekonomian Indonesia. Ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh pada 5,1 persen di tahun ini.
 
"Meskipun PDB (Produk Domestik Bruto) per kapita Indonesia dinilai cukup rendah dibandingkan negara peers, Indonesia diyakini memiliki prospek pertumbuhan yang kuat ke depan," ungkapnya.
 
S&P memperkirakan laju pemulihan akan semakin cepat pada 2022. Hal ini terlihat dari pelonggaran pembatasan mobilitas masyarakat dan normalisasi kegiatan ekonomi setelah pelaksanaan program vaksinasi yang berjalan dengan baik. Peningkatan pertumbuhan ke depan juga didukung oleh masih tingginya harga komoditas.
 
"S&P menilai dampak risiko konflik geopolitik di Ukraina dan Rusia bagi Indonesia masih dalam level yang manageable. Namun demikian, Pemerintah diharapkan tetap mewaspadai tekanan ekonomi global yang lebih parah akibat eskalasi konflik tersebut. Selain itu, potensi munculnya varian baru dari virus covid-19 juga masih menjadi risiko terhadap outlook pertumbuhan ekonomi Indonesia," ujar Luky.
 
Menurut S&P, fleksibilitas kebijakan fiskal merespons gejolak pandemi mampu memitigasi dampak yang lebih dalam pada perekonomian serta mendorong akselerasi pemulihan ekonomi. Penguatan pemulihan ekonomi, upaya perbaikan pengelolaan fiskal melalui reformasi di sisi penerimaan, belanja, serta konsolidasi fiskal mulai 2023 akan memperkuat posisi fiskal dalam jangka menengah.
 
"Penguatan posisi fiskal yang mulai terlihat sejak semester II-2021 terus berlanjut di awal 2022. Hal ini telah memberikan keyakinan bagi S&P, Indonesia memiliki fondasi kuat mewujudkan transisi yang sehat dan aman menuju konsolidasi fiskal di 2023," pungkas dia.
 
(AHL)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif