Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. FOTO: Medcom.id/Desi Angriani.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. FOTO: Medcom.id/Desi Angriani.

Proyeksi Ekonomi 2019 Melambat Lagi Jadi 5,05%

Ekonomi bank indonesia ekonomi indonesia
Husen Miftahudin • 29 Oktober 2019 15:08
Jakarta: Bank Indonesia (BI) memprakirakan pertumbuhan ekonomi RI pada tahun ini hanya 5,05 persen. Ramalan bank sentral terhadap pertumbuhan ekonomi 2019 ini melambat dari perkiraan sebelumnya sebesar 5,06 persen.
 
"Pertumbuhan ekonomi tahun ini mengarah pada 5,1 persen, prediksi kita sekitar 5,05 persen," kata Gubernur BI Perry Warjiyo usai menghadiri acara Asia's Trade and Economic Priorities di Hotel Fairmont, Jalan Asia Afrika, Senayan, Jakarta Selatan, Selasa, 29 Oktober 2019.
 
Menukil Survei Proyeksi Indikator Makroekonomi (SPIME) yang dirilis BI melalui laman resminya pada 11 Oktober lalu, bank sentral meramal pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2019 berada di level 5,06 persen (yoy). Proyeksi itu juga melambat bila dibandingkan dengan realisasi pertumbuhan ekonomi tahun sebelumnya yang mencapai 5,17 persen (yoy).
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Begitu pula dengan prediksi pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2019 yang hanya tumbuh 5,0 persen (yoy). Periode sama 2018, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal III mencapai 5,17 persen (yoy).
 
Perlambatan ini disebabkan oleh berbagai faktor, utamanya keberlanjutan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Apalagi ditambah dengan sejumlah risiko, seperti British Exit (Brexit) dan risiko geopolitik lainnya.
 
"Oleh karena itu tentu saja kita mengharapkan dan menantikan kesepakatan-kesepakatan yang sedang berlangsung antara AS dan Tiongkok mengenai perang dagang ini," ungkap dia.
 
Perry mengharapkan perang dagang AS-Tiongkok itu segera berakhir. Maklum, selain memperlambat pertumbuhan ekonomi global, imbas perang dagang juga bisa menyeret sumber pertumbuhan perdagangan internasional dan harga komoditas.
 
"Hal itu jelas tidak menguntungkan bagi berbagai negara, termasuk Indonesia," ketusnya.
 
Potensi besar keuangan digital pun belum mampu dimaksimalkan. Padahal, sektor tersebut bisa memperkuat dan mempercepat inklusi ekonomi.
 
"Ekonomi keuangan digital ini bisa mendorong pengembangan UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) dan pengembangan berbagai klaster ekonomi sehingga bisa mejadi sumber pertumbuhan ekonomi," jelas Perry.
 
Menurut dia, pemanfaatan keuangan digital perlu sinergi yang kuat antara BI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Pemerintah, dunia usaha, dan pelaku industri keuangan.
 
"Sinergi itu agar mampu menjaga stabilitas dan ketahanan ekonomi Indonesia dan juga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi yang relatif baik," tegas dia.
 

(AHL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif