Ekonom Senior Indef Aviliani. FOTO: MI/ROMMY PUJIANTO
Ekonom Senior Indef Aviliani. FOTO: MI/ROMMY PUJIANTO

Protokol Kesehatan dan Ekonomi Harus Berdampingan untuk Pulihkan Perekonomian

Ekonomi Pertumbuhan Ekonomi Ekonomi Indonesia covid-19 Pemulihan Ekonomi Nasional
Angga Bratadharma • 15 September 2021 13:19
Jakarta: Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani menilai penerapan protokol kesehatan ketat wajib dilakukan Indonesia dan pemerintah wajib mendorongnya agar pandemi covid-19 bisa segera terkendali secara maksimal. Hal itu penting dilakukan lantaran ekonomi dan kesehatan ibarat dua sisi mata uang koin.
 
"Bagaimana protokol kesehatan itu dijaga benar-benar, bukan hanya di masyarakat tetapi juga yang menjaganya (pemerintah) di setiap lokasi. Kita berharap pemerintah jangan terus menerus menerapkan pembatasan karena akan berdampak kepada ekonomi," kata Aviliani, dalam Lintasarta Cloudeka Conference, ICT & Business Outlook 2022, Rabu, 15 September 2021.
 
Menurutnya ekonomi dan kesehatan harus berdampingan. Pasalnya, jika ekonomi yang dikedepankan maka aspek kesehatan bisa terhantam dan kasus infeksi covid-19 bakal kembali melonjak yang imbasnya menekan perekonomian. "Tidak bisa mana yang harus duluan. Ekonomi dan kesehatan itu berdampingan," tegasnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lebih lanjut, ia menilai, pandemi covid-19 masih menjadi tantangan. Transmisi dampak covid-19 dari aspek jalur daya beli, Aviliani memberi contoh, yakni jarak dari satu krisis ke krisis lainnya semakin pendek sehingga kesejahteraan konsumen terus tertekan. Kemudian, pandemi menyebabkan lumpuhnya ekonomi baik dari sisi permintaan maupun sisi penawaran.
 
Lalu tekanan dari sisi permintaan dan penawaran menyebabkan lonjakan pengangguran sehingga menekan daya beli. Kemudian, tekanan terhadap daya beli semakin meningkat karena pembatasan aktivitas ekonomi dan sosial untuk mengurangi penyebaran covid-19.
 
"Cenderung daya beli membaik ketika ada vaksin namun ketika PSBB kembali mengalami penurunan," ucapnya.
 
Dampak pandemi covid-19 dari jalur moneter dan keuangan, ia memaparkan, nilai tukar rupiah sempat menembus di atas Rp16 ribu karena arus modal keluar yang sangat besar dan Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan untuk menstimulasi penyaluran kredit.
 
Dari aspek pasar saham, lanjutnya, persepsi risiko memengaruhi pergerakan IHSG saat krisis termasuk krisis pandemi covid-19 dan dana investor berpindah dari pasar keuangan ke pasar komoditas khususnya emas. Namun di sisi lain pandemi covid-19 berdampak positif terhadap lonjakan investor domestik khususnya milenial.
 
"Dengan berbagai kebijakan pemerintah maka cenderung kondisi keuangan dan ekonomi lebih stabil," ucapnya.
 
Lebih lanjut, terdapat tantangan dan peluang dari pandemi covid-19. Dari sisi tantangan yakni ekonomi global semakin penuh ketidakpastian karena krisis semakin pendek, sektor yang akan tumbuh cukup banyak dan mengarah pada digitalisasi, serta permintaan masih rendah dan membutuhkan waktu untuk perbaikan.
 
"Hingga pandemi yang cukup lama telah mengubah perilaku masyarakat dalam bertransaksi, berinvestasi dan kehidupan," kata Aviliani.
 
Untuk peluang, Aviliani mengungkapkan, bisa bertahan dan berkembang bila selalu inovatif dan kreatif yang artinya tidak akan ada sesuatu yang stabil, sektor yang perlu dijalani harus diperluas karena teknologi informasi akan menguasai banyak sektor, dan potensi pasar masih sangat besar dan harus memanfaatkan peluang pasar domestik termasuk kelas menengah.
 
"Perilaku masyarakat ke arah digital akan semakin besar sehingga perusahaan akan mengikuti kebutuhan pasar," tegasnya.
 
Sementara itu, Aviliani menambahkan, target pertumbuhan ekonomi di 2022 yang ditetapkan pemerintah sebesar 5-5,5 persen terbilang tinggi karena sebelum pandemi covid-19 melanda realisasi pertumbuhan secara rata-rata di bawah 5,2 persen per tahun. Di sisi lain, pemerintah harus fokus pada penanganan inflasi pangan.
 
"Nilai tukar dihadapkan pada potensi dampak tapering off, pergerakan harga minyak Indonesia berkorelasi dengan pemulihan ekonomi global, dan SUN bergerak sejalan dengan country risk. Country risk Indonesia bersumber dari perkembangan kasus covid, fiscal risk, dan dampak pemulihan ekonomi AS," pungkasnya.
 
(ABD)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif