Menkeu Sri Mulyani. Foto : AFP.
Menkeu Sri Mulyani. Foto : AFP.

Sri Mulyani Beberkan Dampak Pengurangan Libur Akhir Tahun untuk Ekonomi

Ekonomi Sri Mulyani Ekonomi Indonesia libur panjang
Eko Nordiansyah • 23 November 2020 19:41
Jakarta: Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan dampak pengurangan libur akhir tahun bagi upaya pemulihan ekonomi di kuartal IV-2020. Menurut dia, aktivitas ekonomi yang mulai meningkat justru melemah seiring kenaikan kasus covid-19.
 
Ia menjelaskan, dalam kondisi normal hari libur biasanya mendorong aktivitas masyarakat untuk saling berinteraksi sehingga terjadi konsumsi. Sementara libur panjang di masa pandemi, justru bisa meningkatkan kasus covid-19 namun tidak membuat ekonomi membaik.
 
"Berarti ini harus hati-hati melihatnya. Apakah dengan libur panjang masyarakat melakukan aktivitas mobilitas tinggi namun tidak menimbulkan belanja dan menimbulkan tambahan kasus covid. Itu harus dijaga," kata dia dalam video conference di Jakarta, Senin, 23 November 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sri Mulyani mengatakan pada Oktober tahun ini jumlah hari kerja hanya 19 hari berbanding 23 hari di Oktober tahun lalu. Libur panjang di akhir pekan pada Oktober ini menyebabkan aktivitas ekspor-impor di pelabuhan sedikit terganggu karena harus libur.
 
"Kalau dilihat dari data Oktober dengan jumlah hari kerja menurun, konsumsi listrik di bidang bisnis kemudian manufaktur menurun, dan itu menggambarkan berarti dampaknya ke ekonomi di sektor produksi juga menurun, di konsumsi tidak pick up juga," jelas dia.
 
Sementara itu, untuk hari kerja di November jumlahnya 21 hari baik tahun ini maupun tahun lalu. Sedangkan untuk Desember 2020, jumlah hari kerjanya menyisakan 16 hari saja apabila ada libur akhir tahun yang cukup panjang seperti yang direncanakan sebelumnya.
 
"Kita tidak hanya lihat satu sisi tapi semuanya. Aspek kesehatan ekonomi kegiatan usaha dan lain-lain. Ini yang dimaksudkan oleh Presiden apakah jumlah hari kerja atau libur panjang dalam suasana covid menimbulkan dampak unintended yakni jumlah kasus meningkat tapi aktivitas ekonomi tidak terjadi kenaikan," ungkapnya.
 
Di sisi lain, Sri Mulyani menilai kendala konsumsi di masyarakat menengah atas adalah kepercayaan (confident) soal penanganan pandemi. Pasalnya mereka fokus pada masalah keamanan dan kesehatan sebagai prioritas dibandingkan daya beli.
 
"Idealnya vaksin sudah ada, sehingga vaksin bisa kita betul-betul membuat masyarakat memiliki confidence. Ini sedang dihadapi semua negara karena menghadapi situasi sama dan masyarakat ingin melakukan aktivitas tapi sangat tergantung pada apakah covid bisa dikendalikan," pungkas dia.

 
(SAW)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif