Ilustrasi ekonomi digital - - Foto: Medcom
Ilustrasi ekonomi digital - - Foto: Medcom

Ekonomi Digital RI Diproyeksi Tembus Rp1.760 Triliun di 2025

Ekonomi e-commerce Ekonomi Digital
Husen Miftahudin • 24 November 2020 15:37
Jakarta: E-Conomy SEA melaporkan ekonomi digital Indonesia secara keseluruhan pada 2020 mencapai sebesar USD44 miliar atau setara Rp624,8 triliun (kurs Rp14.200 per USD). Sementara pada 2025, ekonomi digital Indonesia bisa mencapai USD124 miliar atau setara Rp1.760,8 triliun.
 
Laporan e-Conomy SEA yang disusun Google, Temasek, dan Bain & Company tersebut menandakan bahwa ekonomi digital Indonesia memiliki ketangguhan yang mumpuni. Dalam hal ini, sektor e-commerce dan media online menjadi penopang utama besarnya pertumbuhan ekonomi digital.
 
"Sementara sektor-sektor seperti perjalanan dan transportasi terhambat akibat adanya pandemi. Namun kedua sektor tersebut akan bangkit dalam jangka pendek hingga menengah," ungkap Managing Director Google Indonesia Randy Jusuf dalam pemaparan laporan e-Conomy SEA 2020 secara virtual, Selasa, 24 November 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Randy menjelaskan, sektor e-commerce pada 2020 ini sebesar USD32 miliar atau naik 54 persen dari USD21 miliar pada 2019. Pertumbuhan momentum e-commerce di Indonesia juga tercermin dari peningkatan lima kali lipat jumlah supplier lokal yang mencoba berjualan online karena pandemi.

 
Adapun pada lima tahun ke depan, sektor e-commerce diperkirakan mampu tumbuh hingga 21 persen. Demikian dengan sektor transportasi online dan pengantaran makanan yang pada 2025 tumbuh hingga 28 persen.
 
Media online juga menunjukkan pertumbuhan positif pada 2020 ini dengan nilai sebesar USD4,4 miliar atau naik 24 persen dari USD3,5 miliar pada 2019. Sektor ini diperkirakan akan terus bertumbuh sebesar 18 persen menjadi USD10 miliar pada 2025.
 
Sementara itu, sektor perjalanan online turun 68 persen menjadi USD3 miliar pada 2020, dari USD10 miliar USD pada 2019. Meskipun demikian, sektor ini mengalami pertumbuhan rata-rata per tahun sebesar 36 persen dan mencapai USD15 miliar pada 2025.
 
"Pengantaran makanan dan transportasi juga turun 18 persen menjadi USD5 miliar, dari USD6 miliar pada 2019," jelas Randy.
 
Pada kesempatan yang sama, Partner and Leader dari Southeast Asia Private Equity Practice di Bain & Company Alessandro Cannarsi mengungkapkan bahwa covid-19 telah mengubah cara hidup banyak orang di Asia Tenggara. Oleh karena itu, perkembangan sektor layanan keuangan digital, HealthTech, dan EdTech perlu untuk beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di tengah masyarakat.
 
"Indonesia tetaplah pasar ekonomi internet terbesar di Asia Tenggara dan menjadi medan persaingan utama bagi platform-platform teknologi. Oleh sebab itu, mereka sangat siap untuk menjadi pendorong utama inovasi digital di kawasan ini," ucap Alessandro.

 
Di sisi lain, pendanaan juga tetap solid di Indonesia dengan dibukukannya 202 kesepakatan investasi senilai USD2,8 miliar selama paruh pertama 2020 dibandingkan total USD3,2 miliar dari 355 kesepakatan investasi sepanjang 2019.
 
"Kami masih melihat potensi yang besar dari ekonomi internet Indonesia, dengan pertumbuhan yang didorong oleh besarnya jumlah pengguna internet yang sangat aktif dan bahkan semakin aktif menggunakan internet karena pandemi," imbuh Chief Investment Strategist Temasek Rohit Sipahimalani.
 
Rohit menuturkan banyaknya pengguna baru teknologi berbasis internet serta e-commerce memunculkan prospek untuk usaha-usaha baru di Indonesia. Kondisi ini sekaligus mendorong pertumbuhan untuk usaha yang sudah ada.
 
(Des)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif