Dorong Ekspor, Indonesia Perlu Bersaing dengan Negara Kompetitor

Eko Nordiansyah 08 Agustus 2018 15:35 WIB
eksporekonomi indonesia
Dorong Ekspor, Indonesia Perlu Bersaing dengan Negara Kompetitor
Ekspor. MI/RAMDANI.
Jakarta: Institute for Development of Economic and Finance (Indef) menilai Indonesia perlu bersaing dengan negara kompetitor untuk meningkatkan ekspor. Apalagi sepanjang tahun ini pertumbuhan eskpor lebih rendah dibandingkan pertumbuhan impor yang menyebabkan defisit neraca perdagangan.

Peneliti Indef Ahmad Heri Firdaus mengatakan, pangsa ekspor Indonesia terhadap total ekspor dunia terus mengalami penurunan. Pada 2013, pangsa ekspor Indonesia terhadap total ekspor dunia mencapai lebih dari satu persen, namun pada 2017 pangsanya menyusut menjadi 0,9 persen.

"Sepanjang 2013-2016, pangsa ekspor Vietnam terhadap ekspor dunia naik dari 0,7 persen menjadi 1,4 persen. Hal ini menunjukkan bahwa pangsa pasar ekspor Indonesia telah direbut oleh negara kompetitor, artinya produk-produk domestik masih sulit melakukan penetrasi di pasar global," kata dia di Kantor Indef, Jakarta Selatan, Rabu, 8 Agustus 2018.

Dirinya menambahkan, neraca perdagangan pada kuartal II-2018 yang defisit USD1,02 miliar menyebabkan reduksi terhadap pertumbuhan ekonomi. Untuk pertama kalinya sejak 2014, pangsa neraca perdagangan justru mereduksi pertumbuhan ekonomi dengan pangsa sebesar 0,52 persen dari sebelumnya berperan 0,33 persen pada kuartal I-2018.

"Perlahan tapi pasti, peranan ekspor terhadap PDB juga semakin luntur. Pada 2015 ekspor masih berperan 21,16 persen terhadap PDB, namun pada kuartal lI menyusut menjadi 20,35 persen. Sebagai pembanding, ekspor Thailand dan Malaysia berkontribusi lebih dari 70 persen terhadap PDB, sedangkan di Vietnam mencapai 93 persen," jelas dia.

Sementara itu, Heri menilai impor semakin melonjak disebabkan peningkatan dari berbagai setiap golongan barang mulai dari barang konsumsi, bahan baku dan barang modal. Sepanjang semester I-2018, impor barang konsumsi telah tumbuh melebihi impor bahan baku, yakni sebesar 21,64 persen, sementara impor bahan baku tumbuh 21,54 persen.

"Perlahan tapi pasti, porsi impor barang konsumsi telah semakin melebar. Pada 2013, porsi impor barang konsumsi masih tujuh persen, namun saat ini telah mencapai 9,2 persen. Sejak 2013 juga pertumbuhan imoor barang konsumsi itu lebih cepat dibandingkan bahan baku," pungkasnya.

 



(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id