Risiko Indonesia Kena Krisis Rendah
Ilustrasi. (FOTO: MI/Atet Dwi)
Jakarta: Indonesia menempati posisi terendah dalam sistem deteksi dini risiko krisis yang dikembangkan lembaga riset internasional Nomura Holding Inc.

Berdasarkan deteksi sistem yang dinamai Damocles itu, Indonesia masuk kategori negara yang masih jauh dari potensi krisis. Skor Indonesia berada di level 0 bersama tujuh negara lainnya.

Semakin tinggi skor Damocles sebuah negara, semakin rentan pula indikasi negara tersebut mengalami krisis mata uang. Ada 30 negara Asia yang masuk sistem deteksi krisis itu. Sistem tersebut memberikan penilaian terhadap cadangan devisa, tingkat utang, suku bunga, dan impor suatu negara.

'Penting untuk tidak menyamaratakan risiko krisis pada negara-negara berkembang', demikian tertulis pada salah satu kesimpulan riset itu.

Model tersebut telah berhasil memprediksikan dua pertiga dari krisis mata uang di 54 negara berkembang sejak 1996.

Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Halim Alamsyah mengatakan lembaga riset itu memahami bahwa gejolak ekonomi tidak hanya dihadapi Indonesia.

"Mereka melihat dari ketahanan Indonesia terhadap gejolak ini lebih besar jika dibandingkan dengan Turki, Pakistan, atau Afrika Selatan. Kita dianggap masih punya ruang untuk merespons, untuk ambil kebijakan di bidang fiskal, moneter di bidang sektor riil. Di beberapa negara mereka tidak punya lagi kesempatan untuk merespons itu," ujar Halim di Jakarta, Rabu, 12 September 2018.

Sekarang pasar sedang menunggu dampak yang ditimbulkan dari berbagai kebijakan pemerintah berupa pengenaan tarif impor dan penundaan proyek yang memakan konten impor banyak. Kebijakan yang ditempuh pemerintah diyakini akan mengurangi impor.

Bank Indonesia di saat yang sama membuka keran bagi yang memerlukan dolar. Disediakan fasilitas swap hedging. Hal itu sangat berguna karena membuat mereka tahu bila membutuhkan dolar, BI bisa menyediakannya.

"Ini yang membuat mereka tenteram. Sebab misalnya butuh dolar untuk biayai investasi atau impor produktif, mereka bisa mendapatkan dananya. BI juga masih punya cadangan devisa yang cukup yakni USD118 miliar. Jumlah itu tidak sedikit. BI masih kuat," tandas Halim.




Direktur Eksekutif LPS Ichsan Fauzi mengatakan dalam keadaan normal investor global akan melihat selisih suku bunga imbal hasil. Namun, dalam keadaan tidak normal ketika pelaku pasar panik, mereka siap untuk menerima imbal hasil yang lebih rendah selama aman.

Saat ini imbal hasil SBN tenor 10 tahun sebesar 8,5 persen, sedangkan yield US treasury bonds berada di 2,97 persen.

"Ini akan menarik investor global ke Indonesia dalam keadaan ekonomi normal, ketika eskalasi perang dagang mereda," ujar Ichsan.

Bunga Penjaminan Valas

Rapat Dewan Komisioner LPS memutuskan menaikkan tingkat bunga penjaminan valas di bank umum sebesar 50 bps menjadi dua persen.

Anggota Dewan Komisioner LPS Destry Damayanti mengatakan penaikan suku bunga LPS valas dilakukan guna menarik minat simpanan dolar di dalam negeri. Apalagi gap atau selisih yang ada masih di atas 50 bps.

"Kalau kondisi seperti ini, bagaimana kita bisa menarik dana valas untuk masuk ke perbankan domestik," ujar Destry.

Adapun untuk tingkat bunga penjaminan rupiah di bank umum hanya naik 25 bps menjadi 6,5 persen dan di bank perkreditan rakyat sembilan persen. (Media Indonesia)



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id