Deflasi di DIY disebabkan melimpahnya pasokan bawang merah karena memasuki masa panen raya. Foto: dok MI/Benny.
Deflasi di DIY disebabkan melimpahnya pasokan bawang merah karena memasuki masa panen raya. Foto: dok MI/Benny.

Laju Ekonomi DIY Masih Terhambat Covid-19

Ekonomi Bank Indonesia ekonomi daerah
Ahmad Mustaqim • 03 Agustus 2020 19:20
Yogyakarta: Kantor Perwakilan Bank Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatatkan deflasi 0,08 persen (mtm) pada Juli 2020. Dengan realisasi tersebut, laju inflasi DIY secara akumulatif sampai dengan Juli 2020 tercatat 0,72 persen (ytd) atau secara tahunan 1,83 persen (yoy).
 
"Realisasi inflasi tersebut masih berada di bawah sasaran yang ditetapkan, yakni 3,0 persen ± 1 persen (yoy). Deflasi pada Juli 2020 ini mencerminkan tingkat permintaan yang masih rendah di tengah pandemi covid-19," kata Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia DIY Miyono dalam keterangan tertulis, Senin, 3 Agustus 2020.
 
Miyono menjelaskan capaian inflasi DIY pada Juli, terutama disebabkan deflasi kelompok harga pangan bergejolak (volatile food) maupun kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices). Sementara, inflasi inti (core inflation) mengalami inflasi yang rendah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia juga mengatakan, dari sisi volatile food, deflasi disebabkan melimpahnya pasokan bawang merah karena memasuki masa panen raya. Deflasi bawang merah ini mengakhiri lonjakan bawang merah dalam empat bulan terakhir yang sempat mengalami kenaikan harga hingga 62 persen. Sementara itu komoditas bawang putih kembali mengalami deflasi lima bulan berturut-turut.
 
"Berdasarkan data PIHPS (Pusat Informasi Harga Pangan Strategis), rata-rata harga bawang putih di DIY mencapai Rp21.850 per kilogram (kg) atau telah turun 57 persen dari lima bulan lalu. Upaya pemerintah untuk merelaksasi impor bawang putih melalui Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 27 Tahun 2020 tentang Relaksasi Impor, telah mempercepat realisasi impor bawang putih, sehingga pasokan bawang putih di dalam negeri tercukupi," ucapnya.
 
Selain itu, Miyono melanjutkan pada kelompok harga yang diatur pemerintah kembali mengalami deflasi akibat penurunan harga tiket angkutan udara. Usai pembukaan bandara di DIY, permintaan terhadap angkutan udara masih sangat rendah. Akibatnya, maskapai terus melakukan pemotongan harga untuk meningkatkan tingkat okupansi. Namun demikian, naiknya tarif parkir untuk kawasan satu atau kawasan premium menahan laju deflasi pada kelompok administered prices lebih dalam.
 
Kenaikan tarif parkir ini, ujarnya, sebagai dampak upaya meningkatkan pendapatan daerah setelah refocusing anggaran APBD, Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Perda Nomor 1 Tahun 2020 dan Perda Nomor 2 Tahun 2020. Kawasan premium ini adalah kawasan yang disediakan untuk melayani dan menunjang kegiatan wisata serta kegiatan perdagangan dengan intensitas ekonomi tinggi.
 
"Dari sisi inflasi kelompok inti, peningkatan inflasi ditopang peningkatan harga emas perhiasan dan sepeda. Di tengah pandemi covid-19 yang masih belum mereda, tekanan dari isu geopolitik kembali meningkat. Hal ini menyebabkan gejolak ekonomi global kembali meningkat. Akibatnya harga emas global kembali meningkat sepanjang Juli 2020," ujarnya.
 
Miyono turut menyoroti tren bersepeda yang ada di berbagai kalangan masyarakat. Saat ini bersepeda secara tak langsung telah menjadi bagian gaya hidup di tengah pandemi covid-19. Situasi ini berimbas pada peningkatan permintaan sepeda.
 
"Namun mayoritas produsen sepeda tidak mengantisipasi lonjakan permintaan tersebut, sehingga pabrik kesulitan memenuhi permintaan konsumen. Dampaknya harga sepeda maupun spare part di pasar cenderung melonjak," kata dia.
 
Pada triwulan III-2020, ia menambahkan, terdapat beberapa indikasi tingkat konsumsi yang mulai meningkat. Hal ini tercermin dari mulai naiknya Indeks Keyakinan Konsumen pada Juli 2020, yaitu tercatat sebesar 99,3 poin atau tumbuh 2,47 persen (mtm). Ia menilai saat ini mulai pulihnya optimisme konsumen sejalan dengan peningkatan aktivitas ekonomi di tengah masa adaptasi kebiasaan baru. Selain itu, berdasarkan Survei Konsumen yang dilakukan Bank Indonesia menunjukkan bahwa konsumsi barang-barang lifestyle dan olahraga terus meningkat.
 
"Melihat perkembangan inflasi terkini, Bank Indonesia memperkirakan inflasi DIY 2020 akan berada pada batas bawah titik tengah sasaran. Untuk menjaga stabilitas harga pada sasaran yang ditetapkan, Bank Indonesia bersama dengan anggota TPID DIY akan meningkatkan sinergi dan koordinasi dalam memantau perkembangan harga, menjaga kecukupan stok pangan, serta mengupayakan kelancaran distribusinya," cetusnya.
 
(AHL)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif