Ilustrasi. MI/ATET DWI PRAMADIA
Ilustrasi. MI/ATET DWI PRAMADIA

Stimulus Fiskal dan Moneter Bangkitkan Bisnis di Indonesia

Ekonomi pertumbuhan ekonomi ekonomi indonesia
Angga Bratadharma • 26 Oktober 2019 16:05
Jakarta: Morgan Stanley (MS) mengungkapkan dinamika eksternal masih menantang, tetapi kombinasi stimulus moneter dan fiskal dapat mendorong kebangkitan bisnis dalam negeri di Indonesia. Beberapa hal lainnya yang bisa dilakukan untuk membangkitkan bisnis dalam negeri, antara lain gabungan saham defensif dan saham yang sensitif terhadap suku bunga.
 
"Menghindari stok komoditas, serta menetapkan target MSCI Indonesia menjadi 7.220 (kenaikan enam persen) atau 15,0x forward P/E atau rasio harga ke pendapatan," kata Research Associate Morgan Stanley Sekuritas Indonesia Yulinda Hartanto, seperti dikutip dari risetnya, Sabtu, 26 Oktober 2019.
 
Ia menambahkan reformasi struktural terus berlanjut di mana reformasi struktural telah mengalami kemajuan dalam beberapa tahun terakhir, dengan tonggak utama dari kebijakan moneter yang lebih kuat, sehingga mendorong inflasi yang lebih stabil serta cenderung menurunnya suku bunga nominal.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kemudian kebijakan fiskal yang lebih teratur dan percepatan pengeluaran infrastruktur," tuturnya.
 
Lebih lanjut, MS menuliskan bahwa pemerintah melanjutkan agenda reformasi untuk mencapai sistem pajak dan tenaga kerja yang lebih kompetitif dan efisien. Baru-baru ini, pemerintah memotong pajak properti dan menawarkan pengurangan pajak atas inisiatif padat karya/R&D.
 
Hal tersebut bertujuan untuk memotong tarif pajak perusahaan dari 25 persen menjadi 17 persen sehingga dapat meningkatkan daya saing. Ekonom Asia Morgan Stanley Deyi Tan memperkirakan hal tersebut akan menyebabkan hilangnya pendapatan sebesar 0,6 persen dari PDB dan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi dalam waktu dekat.
 
"Kemungkinan akan berkisar 0,1-0.2 poin. Defisit fiskal 2020 dianggarkan sebesar 1,8 persen dari PDB sebelum stimulus (keluar dari batas tertinggi 3,0 persen). Dampaknya pada perusahaan bisa lebih besar dengan potensi kenaikan laba bersih 4-11 persen," pungkasnya.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif