Rupiah Diproyeksi Rp14.300-Rp14.700/USD
Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara. (FOTO: Medcom.id/Arif)
Jakarta: Bank Indonesia (BI) optimistis mampu mengendalikan dampak kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed) yang berpotensi menaikkan suku bunga acuan (Fed fund rate/FFR) hingga mencapai 3,25 persen tahun depan. BI memproyeksikan nilai tukar rupiah akan bergerak di rentang Rp14.300 per USD hingga Rp14.700 per USD.

"Kami berharap situasi keuangan 2019 lebih controllable dibandingkan 2018," terang Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara saat menghadiri rapat kerja dengan Komisi XI di Kompleks MPR/DPR, Jakarta, Kamis, 13 September 2018.

Ia menjelaskan kebijakan pengetatan moneter oleh AS berlangsung sejak 2015. Saat itu FFR bergerak dari 0,25 persen hingga kini berada di level 2,0 persen atau naik 1,75 persen.

Bahkan, sebenarnya persiapan penaikan suku bunga dilakukan sejak 2013 dan pengetatan likuiditas mulai 2014. Hal itu menimbulkan volatilitas yang tinggi pada negara-negara emerging market, termasuk Indonesia.

"Jadi, ada dua hal terjadi sekaligus dari The Fed, likuiditasnya berkurang dan suku bunganya naik," jelasnya.

Hal itu membuat BI harus menaikkan suku bunga acuan untuk mengendalikan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) dan inflasi. Kemudian dilanjutkan dengan kebijakan menurunkan suku bunga acuan pada 2016-2017.

Mirza menjelaskan tren pengetatan dari The Fed ini akan berlangsung hingga 2019. Untuk 2018, masih akan ada dua kali lagi penaikan, yakni pada September dan Desember. Pada 2019 akan dilakukan sebanyak 2-3 kali.

"Dalam proyeksi BI suku bunga AS 2019 akan naik sampai 3,25 persen. Jadi, masih ada 1,25 persen lagi suku bunga AS meningkat," ujarnya.

Dalam merespons kebijakan The Fed, BI telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak 125 basis poin sepanjang 2018.



Terus Menguat

Pergerakan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta kemarin sore bergerak ke posisi Rp14.792 per USD.

Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan perang dagang yang berpotensi mereda setelah pejabat Amerika Serikat (AS) menyampaikan pembicaraan bilateral menahan apresiasi dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia, termasuk rupiah.

"Dolar AS tertahan karena kabar mengenai sentimen perdagangan kedua negara itu," katanya seperti dikutip dari Antara.

Ia menambahkan, dolar AS juga mendapat sentimen negatif dari data indeks harga konsumen (PPI) yang dirilis mengecewakan. Data PPI Amerika Serikat turun 0,1 persen pada Agustus. Nilai tukar rupiah memang terus menguat dalam perdagangan pekan ini. Bahkan rupiah telah bergerak mendekati level Rp14.800 per USD sejak Rabu, 12 September 2018.

Rupiah pada perdagangan Rabu ditutup menguat 0,16 persen ke 14.830 per USD, setelah sejak pembukaan pagi tertekan bersama mata uang Asia pada posisi Rp14.847,8 per USD.

"BI berupaya mengelola tekanan tersebut agar rupiah tidak melemah, bahkan dapat mendorong rupiah lebih menguat menjelang penutupan ke Rp14.830 per USD," ujar Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah. (Media Indonesia)



(AHL)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id