Ekonomi Indonesia. MI/MOHAMAD IRFAN.
Ekonomi Indonesia. MI/MOHAMAD IRFAN.

Penyebab Inflasi Rendah Tidak Dibarengi Kenaikan Pertumbuhan Ekonomi

Ekonomi pertumbuhan ekonomi
Nia Deviyana • 15 November 2018 20:07
Jakarta: Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyoroti rendahnya inflasi yang tidak dibarengi dengan kenaikan pertumbuhan ekonomi.
 
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi secara tahun ke tahun atau year on year (yoy) sebesar 3,16 persen. Sementara pada kuartal III-2018, perekonomian hanya tumbuh 5,17 persen secara year on year (yoy).
 
"Ini terjadi karena laju daya beli yang juga rendah," ujar Wakil Direktur INDEF Eko Listiyanto pada diskusi di ITS Tower, Jakarta, Kamis, 15 November 2018.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Eko, meski inflasi umum relatif rendah, terdapat komponen inflasi volatile food yang angkanya masih jauh lebih besar, yaitu 4,48 persen year on year (yoy).
 
Jika pemerintah tidak melihat hal ini secara serius, maka implikasinya bisa berdampak lintas sektor, seperti produk non pangan akan ikut terkoreksi karena lemahnya daya beli.
 
"Daya beli yang lemah selanjutnya akan menggerogoti pertumbuhan ekonomi," tambah dia. Sehingga, penting bagi pemerintah untuk mengamankan harga pangan agar daya beli tidak stagnan.
 
Pertumbuhan ekonomi yang terperangkap di angka 5 persenan meski suntikan belanja pemerintah terus ditingkatkan, menurut dia, menandakan adanya stimulasi anggaran yang lemah.
 
"Efeknya bisa menjalar ke tertundanya eksekusi investasi dan tingkat kemudahan berusaha yang terkoreksi," pungkasnya.
 

(SAW)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif