Penyebab Inflasi Rendah Tidak Dibarengi Kenaikan Pertumbuhan Ekonomi
Ekonomi Indonesia. MI/MOHAMAD IRFAN.
Jakarta: Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyoroti rendahnya inflasi yang tidak dibarengi dengan kenaikan pertumbuhan ekonomi.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi secara tahun ke tahun atau year on year (yoy) sebesar 3,16 persen. Sementara pada kuartal III-2018, perekonomian hanya tumbuh 5,17 persen secara year on year (yoy).

"Ini terjadi karena laju daya beli yang juga rendah," ujar Wakil Direktur INDEF Eko Listiyanto pada diskusi di ITS Tower, Jakarta, Kamis, 15 November 2018.

Menurut Eko, meski inflasi umum relatif rendah, terdapat komponen inflasi volatile food yang angkanya masih jauh lebih besar, yaitu 4,48 persen year on year (yoy).

Jika pemerintah tidak melihat hal ini secara serius, maka implikasinya bisa berdampak lintas sektor, seperti produk non pangan akan ikut terkoreksi karena lemahnya daya beli.

"Daya beli yang lemah selanjutnya akan menggerogoti pertumbuhan ekonomi," tambah dia. Sehingga, penting bagi pemerintah untuk mengamankan harga pangan agar daya beli tidak stagnan.

Pertumbuhan ekonomi yang terperangkap di angka 5 persenan meski suntikan belanja pemerintah terus ditingkatkan, menurut dia, menandakan adanya stimulasi anggaran yang lemah.

"Efeknya bisa menjalar ke tertundanya eksekusi investasi dan tingkat kemudahan berusaha yang terkoreksi," pungkasnya.



(SAW)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id