Ekonomi Indonesia. Foto ; MI.
Ekonomi Indonesia. Foto ; MI.

Konflik Rusia-Ukraina Memanas, Ini Dampaknya bagi Ekonomi RI

Eko Nordiansyah • 24 Februari 2022 17:52
Jakarta: Konflik antara Rusia dan Ukraina meningkat seiring dengan deklarasi operasi militer yang diperintahkan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin. Masalah geopolitik ini ternyata berimbas pada upaya pemulihan ekonomi global, termasuk juga berdampak kepada ekonomi Indonesia baik langsung maupun tidak langsung.
 
Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan invasi Rusia di Ukraina diperkirakan akan menghambat aliran perdagangan dunia, terutama ke Ukraina. Meski dari sisi ukuran ekonominya, Ukraina bukanlah negara dengan size dan intensitas perdagangan yang besar namun keterlibatan negara lain perlu diwaspadai.
 
Josua menjelaskan, walaupun dampak konflik ini kepada perekonomian global secara langsung minimal, tetapi terdapat potensi keterlibatan negara yang tergabung dengan NATO. Pasalnya sumber daya negara Eropa dan Amerika Serikat (AS) mungkin akan bergeser kepada perang Rusia-Ukraina.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Hal ini kemudian akan menghambat proses pemulihan ekonomi negara anggota NATO, yang mana merupakan negara maju, sehingga dampak dari invasi Rusia secara tidak langsung akan menghambat perekonomian global dalam derajat tertentu," kata dia kepada Medcom.id, Kamis, 24 Februari 2022.
 
Ia menambahkan dampaknya terhadap Indonesia cenderung terbatas secara umum. Hanya saja sekitar lebih dari 20 persen impor gandum Indonesia berasal dari Ukraina, sehingga bisnis usaha yang berkaitan dengan tepung dan gandum diperkirakan terdampak dan berpotensi menaikkan harga produknya.
 
Di sisi lain, invasi Rusia mendorong kenaikan harga global yang kemudian berpotensi mendorong peningkatan nilai ekspor dari Indonesia. Saat ini harga minyak mentah dunia Brent sudah menembus USD100 per barrel yang mendorong kenaikan harga CPO USD1.550 per ton dan harga batubara USD239 per ton.
 
"Meskipun demikian, jika tensi yang meningkat antara Rusia dan Ukraina tersebut terus berlanjut diperkirakan akan memberikan sentimen negatif di pasar keuangan negara berkembang yang selanjutnya akan mendorong capital outflow dari pasar keuangan domestik," ungkapnya.
 
Selain itu, invasi Rusia di Ukraina juga memicu peningkatan ketegangan geopolitik telah mendorong penguatan safe haven asset termasuk penguatan dolar AS. Invasi Rusia ke Ukraina yang mendorong respon dari AS berupa sanksi terhadap Rusia telah mendorong risk off sentimen di pasar keuangan global.
 
Pasar saham Asia ditutup melemah termasuk IHSG yang turun 1,5 persen ke level 6.818, yield SUN tenor 10 tahun ditutup naik dua basis poin (bps) ke 6,52 persen dan nilai tukar rupiah juga diperdagangkan melemah terhadap dolar AS dan ditutup melemah 0,31 persen ke level Rp14.383 per USD.
 
"Dollar indeks yang menunjukkan kinerja dollar AS terhadap mata uang utama juga diperdagangkan menguat hingga level 96,75 atau menguat 58 persen, sementara yield US Treasury juga turun sekitar 11 bps ke level 1,88 persen di tengah permintaan UST yang meningkat di tengah berkembangnya risk off sentiment," pungkasnya.
 
(SAW)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif