Kepala Kajian Makro Lembaga Penelitian Ekonomi Manajemen (LPEM) Universitas Indonesia, Febrio Kacaribu. (Foto: Medcom.id/Desi Angriani).
Kepala Kajian Makro Lembaga Penelitian Ekonomi Manajemen (LPEM) Universitas Indonesia, Febrio Kacaribu. (Foto: Medcom.id/Desi Angriani).

Impor Migas Bukan Penyebab Utama Defisit Neraca Perdagangan

Ekonomi neraca perdagangan indonesia
Nia Deviyana • 12 November 2018 18:37
Jakarta: Neraca perdagangan Indonesia dianggap belum stabil meskipun data September 2018 mulai positif, yakni surplus USD0,23 miliar.
 
Data Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya menyebut neraca perdagangan Indonesia periode Januari-Juli terjadi defisit USD3,09 miliar atau sekitar Rp46 triliun. Pada Agustus 2018 defisit neraca perdagangan juga terjadi sebesar USD1,02 miliar.
 
Kepala Kajian Makroekonomi LPEM Universitas Indonesia Febrio N Kacaribu mengatakan defisit neraca perdagangan bukan terjadi semata-mata karena besarnya impor sektor migas.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Migas iya, tetapi bukan yang dominan," ujarnya dalam diskusi di Hotel Le Meridien, Jakarta, Senin, 12 November 2018.
 
Febrio melanjutkan, penyebab defisit neraca perdagangan yang paling utama lantaran performa ekspor Indonesia yang menurun. "Itu penyebab yang paling tajam," tambah dia.
 
Namun, ia menekankan menurunnya angka ekspor tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Pasalnya, sulit menjual barang ekspor di tengah pertumbuhan ekonomi global yang melemah.
 
"Pertumbuhan ekonomi Tiongkok melemah, India juga sama. Belum lagi perang dagang AS-Tiongkok, memang enggak mudah cari pasar saat ini," jelasnya.
 
Belum lama ini, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita yakin surplus perdagangan terus berlanjut. Peningkatan ekspor dan pengendalian impor bakal berjalan maksimal dengan strategi yang telah disiapkan.
 
Enggar memaparkan, pemerintah bukan tak bisa untuk menghilangkan seluruh produk impor yang dianggap membebani defisit perdagangan. Selain pola konsumsi masyarakat di Tanah Air, keterikatan perjanjian dangan dengan negara mitra perdagangan mancanegara perlu dipenuhi.
 

 

(AHL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif