Menko Perekonomian Darmin Nasution. Foto: Medcom.id/Eko Nordiansyah
Menko Perekonomian Darmin Nasution. Foto: Medcom.id/Eko Nordiansyah

Curhat Darmin tentang Ekonomi Indonesia di Tengah Perlambatan

Ekonomi pertumbuhan ekonomi ekonomi indonesia
Eko Nordiansyah • 19 Oktober 2019 08:34
Jakarta: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengakui sulitnya menjalankan roda perekenomian dalam lima tahun Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Pasalnya pemerintah telah sejak awal dihadapkan pada kondisi perlambatan ekonomi.
 
Darmin menceritakan perlambatan ekonomi terjadi lantaran berakhirnya era kenaikan harga komoditas sejak 2010-2011. Meski ekonomi Indonesia sempat mengalami perbaikan pada 2015 lalu, namun kondisi ekonomi global yang kembali melambat memberikan tantangan tersendiri.
 
"Pemerintahan ini dimulai dengan periode lingkungan ekonomi mengarah ke perlambatan. Mulai muncul lagi dia sekarang pada waktu pemerintahan Jokowi berikutnya," kata dia, di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Jumat, 18 Oktober 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kondisi ini, lanjut Darmin, harus menjadi perhatian pemerintah. Apalagi sejumlah negara maju mengalami perlambatan ekonomi yang diakibatkan dari melemahnya sektor perdagangan dunia yang berimbas kepada melambatnya pertumbuhan ekonomi global.
 
"Tiongkok (pertumbuhan ekonomi) cuma enam persen, karena ekspornya besar. Makanya begitu ekonomi dunia melambat, dia turun banyak. Singapura mengarah ke negatif, karena porsi dari ekspor impor dalam PDB-nya besar sekali," jelas dia.
 
Dirinya menambahkan Pemerintah Indonesia sedikit banyak telah mempersiapkan diri menghadapi perlambatan ekonomi dunia. Misalnya saja dengan membangun infrastruktur yang dapat menunjang kinerja perekonomian, hingga inflasi yang terjaga untuk menjaga konsumsi domestik.
 
Tak hanya itu, pemerintah juga memberikan berbagai kemudahan perizinan yang diharapkan bisa mendongkrak investasi. Ditambah lagi stimulus fiskal melalui kebijakan tax allowance sampai dengan tax holiday untuk menggairahkan sektor industri.
 
Namun demikian, kekurangan pemerintah saat ini adalah upaya menjaga defisit neraca perdagangan. Sejak awal tahun, defisit neraca perdagang tercatat mencapai USD1,95 miliar yang berdampak kepada defisit transaksi berjalan.
 
"Walaupun impor migas kita masih relatif besar, sehingga defisit besarnya di sana cukup besar. Tapi nonmigas positif (surplus), meski tidak besar dan tidak bisa menutup defisit migas," pungkasnya.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif