Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso. Foto : Medcom/Eko.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso. Foto : Medcom/Eko.

Resesi Ekonomi, Ketua OJK Pastikan Sektor Keuangan Solid

Ekonomi ojk
Desi Angriani • 11 September 2019 20:38
Jakarta: Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menyebut sektor keuangan cukup solid dan stabil dalam menghadapi hantaman badai resesi ekonomi global. Hal ini terlihat dari capital market dan likuiditas perbankan yang cukup kuat.
 
"Permodalan kita cukup kuat, likuiditas oke, likuiditas sudah semakin likuid," ujar Wimboh ditemui di Istana Negara, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, 11 September 2019.
 
Wimboh menambahkan arus masuk dana asing dan cadangan devisa terus meningkat. Total capital inflow per 29 Agustus 2019 mencapai Rp180,7 triliun. Sementara cadangan devisa pada akhir Agustus mencapai USD126,4 miliar.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Itu kan suatu tanda yang sudah lebih baik. Jadi sudah hampir menyamai cadangan devisa kita yang dulu USD131 miliar paling tinggi," ungkap dia.
 
Oleh karena itu, ia meyakini fundamental ekonomi Indonesia akan mampu menangkis perlambatan ekonomi dunia. Apalagi pertumbuhan ekonomi dalam negeri bergantung pada domestik demand bukan eksternal demand seperti ekspor.
 
"Negara yang pertumbuhannya mengandalkan eksternal demand atau ekspor itu yang paling berdampak," katanya.
 
Pemerintah juga tetap harus menarik penanaman modal asing dalam bentuk foreign direct investment (FDI) bukan portofolio. Di sisi lain, ekspor produk yang ditinggalkan oleh Tiongkok karena perang dagang juga mesti diisi oleh industri dalam negeri.
 
"Karena selama ini portofolio masih banyak dan ini adalah upaya yang terus kita lakukan agar kita lebih kuat lagi sehingga dana yang masuk lebih sustain dan lebih permanen, itu upaya yang ga pernah berhenti," pungkas Wimboh.
 
Adapun kondisi resesi global tak terlepas dari perkiraan melemahnya pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat (AS). Berbagai kebijakan yang diambil nyatanya malah membuat negara itu mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi dari 2,7 persen di kuartal II-2019 menjadi 2,3 persen di kuartal berikutnya.
 
Resesi yang terjadi di AS dikhawatirkan bakal merembet ke banyak sektor, hingga kepada perekonomian negara-negara lain di dunia termasuk Indonesia. Saat ini bahkan negara Turki telah mengalami resesi karena mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang minus selama dua kuartal berturut-turut.
 
Kinerja perekonomian Indonesia pun mulai menunjukkan perlambatan di kuartal II tahun ini. Pertumbuhan sebesar 5,05 persen itu rupanya menunjukkan laju penurunan sebesar 0,01 persen secara q to q.
 
Di sisi lain, kondisi bunga investasi jangka panjang di bond pemerintah lebih rendah dari jangka pendek. Artinya imbal balik investasi akan cenderung bernilai negatif. Hal ini menunjukkan bahwa akan terjadi pesimisme terhadap ekonomi jangka panjang, juga pertanda resesi ke depan.

 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif