NEWSTICKER
Menteri Keuangan Sri Mulyani - - Foto: AFP
Menteri Keuangan Sri Mulyani - - Foto: AFP

Sri Mulyani Yakin Ekonomi Kuartal I Masih Bisa Tumbuh 4,9%

Ekonomi pertumbuhan ekonomi Virus Korona sri mulyani
Eko Nordiansyah • 18 Maret 2020 17:54
Jakarta: Menteri Keuangan Sri Mulyani meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I-2020 masih bisa tumbuh antara 4,5 hingga 4,9 persen. Perkiraan ini masih sesuai dengan forecast yang dilakukan oleh Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan.
 
Menkeu menjelaskan di awal Maret lalu pertumbuhan ekonomi masih berjalan, sehingga diperkirakan masih berada di level 4,9 persen. Namun akibat kondisi penyebaran virus korona yang cepat, ekonomi Indonesia pun diprediksi sedikit turun.
 
"Jadi kalau kuartal I sekitar 20 hari terakhir dan ini bisa mengalami penurunan. Mungkin diharapkan tumbuh di 4,5 persen sampai 4,9 persen untuk kuartal I," kata dia dalam video conference di Jakarta, Rabu, 18 Maret 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurutnya, penurunan ekonomi akibat virus korona tidak hanya terjadi di Indonesia saja. Hal serupa terjadi di sejumlah negara yang penyebaran virus koronanya cukup masif seperti Tiongkok, Korea Selatan, hingga Italia. Mereka diproyeksi mengalami tekanan ekonomi, bahkan pertumbuhan negatif.

 
"Kita bertahan karena beberapa faktor positif. Tapi kita akan sangat hati-hati untuk kuartal II karena berbagai prediksi modeling tentang virus korona terjadi di seluruh negara dari RRT, Korsel, Jepang dan Italia. Sekarang kita tidak underestimate dampaknya sangat signifikan begitu terjadi penyebaran," jelasnya.
 
Ia menambahkan, kuartal II menjanjikan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik karena ada musim mudik Lebaran, Tunjangan Hari Raya (THR), serta gaji ke-13 yang bisa mendongkrak konsumsi. Namun ini berfungsi manakala penyebaran virus korona bisa dihambat.
 
"Tadinya kita berharap kuartal II ada seasonal Lebaran, mudik, untuk THR dan lain-lain. Tapi THR kalau kita berikan gaji ke-13, kalau orang tetap di rumah kan tidak spend. Ini menjadi menahan pertumbuhan ekonomi. Ini masih belum kita pelajari, nanti seperti apa pengaruh ke keseluruhan," ungkap dia.
 

(Des)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif