BI: Utang Luar Negeri Masih Didominasi Jangka Panjang
Ilustrasi (FOTO ANTARA/Rosa Panggabean)
Jakarta: Bank Indonesia (BI) menyebut kenaikan Utang Luar Negeri (ULN) tak perlu dikhawatirkan. Pasalnya, mayoritas utang merupakan bertenor jangka panjang serta telah memenuhi kewajiban lindung nilai atau hedging.

"Utang ini juga sudah memenuhi aturan hedging atau lindung nilai. Jadi risiko nilai tukarnya sudah minim karena sudah dilindung nilai," kata Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo, di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis, 17 Mei 2018.

Sebelumnya BI mencatat ULN Indonesia pada kuartal I-2018 tumbuh melambat. ULN Indonesia tercatat sebesar USD358,7 miliar, terdiri dari USD184,7 miliar utang pemerintah dan bank sentral sebesar, serta USD174,0 miliar utang swasta.

Berdasarkan jangka waktu, struktur ULN Indonesia pada akhir kuartal I-2018 tetap didominasi ULN berjangka panjang yang memiliki pangsa 86,1 persen dari total ULN. Diharapkan, utang berjangka panjang ini bisa tetap terjaga risikonya agar tidak memberikan tekanan terhadap perekonomian.

Selain itu, Dody menilai, kenaikan utang juga dipicu oleh korporasi yang menarik utang valuta asing (valas) dari induk usahanya. Dengan demikian, perusahaan tersebut juga akan memiliki kewajiban valas.

"Ada beberapa korporasi itu punya hubungan dengan induk perusahaanya. Induk perusahaan di luar negeri menarik pinjaman valas. Ini tentu membuat korporasi memili kewajiban membayar ULN valasnya," tutup dia.

 



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id