Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas Suharso Monoarfa (kiri) berbincang dengan Menaker Ida Fauziyah (tengah) dan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (kanan). Foto: Antara/Puspa Perwitasari
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas Suharso Monoarfa (kiri) berbincang dengan Menaker Ida Fauziyah (tengah) dan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (kanan). Foto: Antara/Puspa Perwitasari

Bahas RPJMN, Pemerintah Optimistis terhadap Ekonomi Indonesia

Ekonomi bappenas
Damar Iradat • 14 November 2019 20:51
Jakarta: Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Suharso Monoarfa menyampaikan pemerintah optimistis dalam menghadapi perekonomian ke depan. Hal tersebut tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 yang dibicarakan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada sidang kabinet.
 
Suharso menuturkan, ada tiga skema dalam penyusunan RPJMN yakni optimistis, pesimistis, dan moderat. Skema optimistis dipilih supaya dapat memacu Indonesia.
 
"Bahwa keadaan di dunia kita tahu keadaannya, kita melihat keadaan yang seperti itu, kenapa tidak kita ubah jadi peluang," ujar Suharso di Kantor Presiden, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis, 14 November 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Adapun RPJMN 2020-2024 didasarkan pada asumsi pertumbuhan ekonomi berada di kisaran enam persen, dengan tingkat inflasi tetap bertahan di bawah 3,5 persen. Begitu juga dengan nilai tukar rupiah yang diasumsikan bertahan di angka Rp14 ribu.
 
"Skenario itu memang disusun dengan beberapa asumsi," tuturnya.
 
Adapun pada realisasi RPJMN periode sebelumnya, papar Suharso, mencatat modal sosial seperti turunnya angka kemiskinan menjadi di bawah 10 persen, serta inflasi yang terjaga di bawah 3,5 persen. Catatan tersebut yang menajadi modal penyusunan RPJMN kali ini.
 
Ke depan, rencana pembangunan akan fokus pada pengembangan sumber daya manusia (SDM), peningkatan investasi, peningkatan produktivitas tenaga kerja, dan perbaikan pasar tenaga kerja.
 
"Memang tugas pemerintah lebih memperbaiki dari sisi supply (penawaran). Market biarkanlah dijawab oleh market. Dan dalam pembiayaan masa depan, tentu kita akan lebih membuka peluang jauh lebih besar kepada swasta dan saya kira itu yang benar," tuturnya.
 
Selain itu, Suharso menjelaskan, pemerintah juga terus menggenjot pembangunan infrastruktur. Namun begitu, ia memastikan, pembangunan infrastruktur itu tidak hanya mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
 
"Kita akan tetap bersinergi dan dengan sumber-sumber keuangan yang alternatif yang lebih inovatif, dalam hal ini swasta. Kerjasama seperti PPP (public private partnership) atau KPBU (Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha) akan diteruskan," tandasnya.
 

(DEV)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif