Pembatalan Lelang SBN Tekan Beban Utang Negara
Illustrasi. MI/RAMDANI.
Jakarta: Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira merespons positif pembatalan penerbitan obligasi atau Surat Berharga Negara (SBN) pada sisa tahun ini. Menurut dia, keputusan itu berdampak positif dalam menekan utang negara.

"Kita sambut positif. Pemerintah menyadari bahwa beban menerbitkan SBN apalagi dalam valas, risikonya besar. Kemudian beban pembayaran bunga utang juga membuat ruang fiskal makin sempit," ujarnya usai diskusi di Hotel Aston Bogor, Sabtu, 24 November 2018.

Dampak positif lainnya, kata dia, juga akan berpengaruh pada likuiditas pasar keuangan. Dia memaparkan, likuiditas perbankan sedang ketat, sehingga apabila pemerintah menerbitkan SBN akan ada perebutan likuiditas antara pemerintah, bank, dan perusahaan swasta.

"Likuiditas perbankan sekarang LDR-nya sudah 94 persen, membuat bank cepat menaikkan simpanan, menarik dana lebih banyak lagi, dan itu enggak sehat," paparnya.

Pada akhirnya, yang terkena imbasnya adalah pelaku usaha karena bunga kredit menjadi mahal. Ini yang disebut dengan teori crowding out effect yang menyebabkan uang dari pasar keuangan tidak masuk ke sektor perbankan dan sektor riil melalui kredit, melainkan ke pemerintah karena terserap di SBN.

"Akhirnya deposan berpikir saya tarik duit dari bank masuk ke SBN, ini yang enggak sehat, ini yang mau dikurangi, kita sambut positif hal itu," pungkasnya.

Sebelumnya, ada empat lelang SBN yang dibatalkan pemerintah, di antaranya Surat Berharga Syariah Negara (SBSN)/Sukuk Negara pada 27 November 2018 dan 11 Desember 2018, kemudian lelang SUN pada 4 Desember 2018 dan 18 Desember 2018.



(SAW)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id