Ilustrasi. FOTO: MI/ANGGA YUNIAR
Ilustrasi. FOTO: MI/ANGGA YUNIAR

DBS: Fundamental Ekonomi RI Lebih Baik Ketimbang Taper Tantrum di 2013

Ekonomi Virus Korona Ekonomi Indonesia dbs indonesia covid-19 pandemi covid-19
Antara • 25 Juni 2021 10:05
Jakarta: Ekonom Senior DBS Group Research Radhika Rao berpendapat fundamental ekonomi Indonesia saat ini sudah lebih baik dibandingkan dengan saat taper tantrum pada 2013, ketika modal asing di negara berkembang termasuk Indonesia, terserap oleh kenaikan imbal hasil surat utang Pemerintah Amerika Serikat.
 
"Hal ini menunjukkan bahwa meski ada beberapa dampak dari aset emerging markets yang diakibatkan oleh penurunan (taper), (faktor) ini tidak lantas menjadi signifikan setelah adanya volatilitas," kata Radhika Rao, dalam DBS eTalk Series, dilansir dari Antara, Jumat, 25 Juni 2021.
 
Taper tantrum merupakan fenomena yang bersumber dari sinyalemen otoritas di Amerika Serikat yang akan mengurangi nilai pembelian aset seperti obligasi, dan menurunkan gelontoran stimulus (quantitative easing/QE) yang selama ini dilakukan untuk menginjeksi likuiditas di pasar keuangan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Alhasil, pasar khawatir terhadap sinyalemen berhentinya stimulus dari Federal Reserve. Kekhawatiran itu membuat investor mencari langkah aman dengan membalikkan modal ke instrumen keuangan di AS, dan meninggalkan gejolak di negara-negara berkembang. Gejolak di pasar keuangan karena penurunan nilai aset itu yang mendasari munculnya istilah taper tantrum.
 
Radhika melihat fundamental nilai tukar rupiah sudah lebih baik, jika menghadapi gejolak karena adanya arus modal keluar, seperti wacana yang muncul dalam beberapa waktu terakhir karena gestur The Federal Reserve menyikapi laju pemulihan ekonomi AS.
 
"Dari segi mata uang rupiah, fundamental Indonesia lebih baik dari 2013 pada saat taper tantrum atau melonjaknya imbal hasil pada obligasi AS,” kata dia.
 
DBS yang berkantor pusat di Singapura, meyakini Bank Indonesia akan tetap menjaga stabilitas di pasar keuangan, meskipun sikap bank sentral dalam beberapa waktu terakhir mengarah ke kebijakan akomodatif untuk mendorong pemulihan ekonomi.
 
Di samping itu, selain ancaman dari taper tantrum akibat pemulihan ekonomi AS, Radhika berpandangan bahwa pulihnya ekonomi Indonesia akan sangat bergantung dari realisasi vaksinasi covid-19. Kesehatan masyarakat harus dikedepankan agar Indonesia segera keluar dari krisis pandemi covid-19.
 
"Vaksinasi jelas memegang peran penting dalam upaya pemulihan ekonomi dan pemetaan investasi di masa mendatang. Keuangan publik Indonesia telah mengalami peningkatan yang cukup signifikan selama dua dekade terakhir. Pemotongan suku bunga tidak akan terjadi, akan tetapi stabilitas pasar keuangan akan menjadi prioritas,” pungkas Radhika.
 
(ABD)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif