Forum diskusi perkumpulan alumni Universitas Harvard di Indonesia, Harvard Club Indonesia (HCI), bertajuk 'Menuju Visi Indonesia 2045 dan Ibu Kota Baru' di Kementerian PPN/Bappenas, akhir pekan lalu. (Istimewa)
Forum diskusi perkumpulan alumni Universitas Harvard di Indonesia, Harvard Club Indonesia (HCI), bertajuk 'Menuju Visi Indonesia 2045 dan Ibu Kota Baru' di Kementerian PPN/Bappenas, akhir pekan lalu. (Istimewa)

Bonus Demografi Kesempatan Emas Majukan Indonesia

Ekonomi ekonomi indonesia
01 Juli 2019 17:02
Jakarta: Pemerintah memiliki harapan positif untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju pada 2045. Guna mencapai sasaran tersebut pemerintah mengajak seluruh pihak dan elemen masyarakat untuk berkolaborasi dalam mengatasi setiap tantangan tersebut.
 
"Bonus demografi menjadi kesempatan emas yang harus kita manfaat sebaik-baiknya untuk kemajuan Indonesia. Tentunya, seluruh persiapan harus dilakukan dari sekarang,” kata Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro dalam forum diskusi perkumpulan alumni Universitas Harvard di Indonesia, Harvard Club Indonesia (HCI), bertajuk 'Menuju Visi Indonesia 2045 dan Ibu Kota Baru' di Kementerian PPN/Bappenas, akhir pekan lalu.
 
World Bank dan World Economic Forum memprediksi Indonesia akan menjadi salah satu dari lima negara dengan ekonomi terbesar dunia dengan Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai USD7,3 triliun dan pendapatan per kapita sebesar USD25 ribu.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Untuk itu, sambung Bambang, pemerintah perlu dan terbuka untuk setiap masukan dan pemikiran yang dapat mendukung dan membantu mewujudkan visi Indonesia 2045. Bambang juga menjelaskan pemindahan Ibu Kota Negara ke luar Pulau Jawa juga merupakan salah satu strategi pemerintah untuk mendukung Visi Indonesia 2045 tersebut.
 
Selain untuk mengurangi beban Pulau Jawa, pemindahan ibu kota utamanya bertujuan untuk mewujudkan pemerataan pembangunan yang memiliki semangat Indonesia Sentris di seluruh kawasan Indonesia, utamanya Kawasan Timur Indonesia.
 
“Alasan utama kita berpikir untuk memindahkan Ibu Kota Negara adalah karena beban Pulau Jawa sudah cukup besar. Jakarta sebagai pusat pemerintahan, pusat bisnis, pusat keuangan, pusat perdagangan, dan pusat segalanya. Kita menginginkan Indonesia Sentris."
 
"Total estimasi biaya investasi pemindahan IKN ini sebesar Rp466 triliun atau USD32,9 miliar. Pembiayaan pemindahan IKN tidak akan memberatkan APBN, tetapi akan lebih mengutamakan peranan swasta, BUMN dan kerja sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU),” jelas Menteri Bambang.
 
Sementara itu Presiden HCI Melli Darsa, alumni dari Harvard Law School, yang juga aktif sebagai pengacara dan pakar hukum bisnis serta capital market mengatakan bahwa perjalanan untuk mewujudkan Visi Indonesia 2045 akan menjadi perjalanan yang penuh tantangan dan rintangan yang kompleks serta saling terkait.
 
“Tantangan dan rintangan yang sudah di depan mata saat ini tidak hanya bagaimana kita bisa terus meningkatkan investasi dan ekspor sebagai penggerak roda ekonomi, tapi juga bagaimana kualitas sumber daya manusia Indonesia dapat ditingkatkan,” ujar Melli.
 
Melli menambahkan semua itu harus dilakukan di tengah rencana pemindahan ibu kota, ditambah ketidakpastikan ekonomi global dan ancaman perang dagang. Banyak pihak menunggu pemerintah melakukan terobosan kebijakan dan regulasi yang mencakup multi aspek di bidang ekonomi, industri, sosial ketenagakerjaan, lingkungan, dan perdagangan yang dapat mendukung Visi Indonesia 2045.
 
Melli menekankan kolaborasi adalah kunci untuk wujudkan Visi Indonesia 2045. Visi ini adalah visi bersama sehingga seluruh elemen masyarakat Indonesia harus terlibat dan dilibatkan.
 
"Untuk itu diskusi, Focus Group Discussion (FGD), serta forum-forum tukar pemikiran seperti halnya acara hari ini harus rutin diadakan karena bisa jadi platform think tank dari civil society menyampaikan masukan, ide dan pemikian yang relevan. Dan juga penting untuk membangun buy-in masyarakat pada upaya dan visi pemerintah mencapai Indonesia maju dan Visi Indonesia 2045,” pungkas Melli.
 
Forum diskusi ini juga dihadiri sekitar 100 alumni dan mahasiswa Universitas Harvard, anggota HCI, serta alumni-alumni dari Universitas-Universitas Ivy League di Amerika Serikat, sekaligus sejumlah Universitas terkemuka lain dari negara Inggris dan Asia.

 

(ALB)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif