Gubernur BI Perry Warjiyo. FOTO: MI/PANCA SYURKANI
Gubernur BI Perry Warjiyo. FOTO: MI/PANCA SYURKANI

BI: Beli SBN di Pasar Perdana Tak Buat Inflasi Melonjak

Ekonomi inflasi bank indonesia
Husen Miftahudin • 30 April 2020 07:31
Jakarta: Bank Indonesia (BI) memastikan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar perdana tak akan membuat inflasi melambung tinggi. Inflasi sepanjang tahun ini dipastikan sesuai target yakni bergerak rendah dan terkendali di kisaran tiga persen plus minus satu persen.
 
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan pasokan uang (money supply) dari pembelian SBN di pasar perdana oleh bank sentral tidak akan banyak. Apalagi, Bank Indonesia maksimal hanya boleh membeli surat utang sebanyak 25 persen dari kebutuhan pembiayaan fiskal.
 
Adapun pembiayaan defisit fiskal pemerintah mencapai sebanyak Rp1.400 triliun. Namun sekitar Rp950 triliun hingga Rp975 triliun sudah terpenuhi dari berbagai sumber. Artinya, hanya sekitar Rp425 triliun hingga Rp450 triliun sisanya akan didanai dari penerbitan lelang SBN.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kami sampaikan tambahan pembelian SBN (oleh BI) dari pasar perdana itu tidak akan banyak. Kalau dihitung-hitung maksimum Rp100 triliun, tapi paling-paling separuhnya, sekitar Rp50an triliun. Kami yakin akan lebih banyak diserap oleh pasar," ujar Perry, dalam telekonferensi, di Jakarta, Rabu, 29 April 2020.
 
Selain itu, kucuran dana sekitar Rp50 triliun tersebut tak akan langsung mengalir ke sektor riil. Pasokan uang oleh bank sentral itu terlebih dulu mengalir ke sektor perbankan dan bersifat uang primer atau inti (M0). M0 merupakan uang kartal dan simpanan giro bank umum.
 
Bila uang primer tersebut disalurkan oleh pemerintah atau perbankan ke sektor riil, baru kemudian akan membanjiri M1 atau uang kartal yang dipegang masyarakat (uang tunai) dan M2 yang meliputi M1, uang kuasi (tabungan, simpanan berjangka dalam rupiah dan valas, serta giro dalam bentuk valas), dan surat berharga yang dimiliki korporasi.
 
"Ini rentetannya panjang, lag effect-nya itu panjang. Jadi jangan mikir kalau BI beli SBN atau quantitative easing sekarang, inflasinya langsung melonjak, tidak seperti itu. Itu baru M0, uang primer," tegasnya.
 
Selain jumlah alirannya tidak banyak dan lag effect-nya panjang, Perry memperkirakan pembelian SBN di pasar sekunder oleh BI tidak akan berpengaruh pada inflasi di tahun ini. Tapi bisa saja aliran dana segar tersebut mempengaruhi inflasi di tahun depan.
 
Namun terkait pergerakan inflasi, ada beberapa faktor yang mempengaruhi, bukan hanya dari pasokan uang di sektor riil. Di antaranya adalah besaran produksi, besaran permintaan, pemulihan ekonomi, hingga cukup tidaknya kapasitas produksi terhadap permintaan.
 
"Itu akan terus dilihat dan BI setiap bulan akan melakukan Rapat Dewan Gubernur untuk memantau itu. Tapi kesimpulannya, insyaallah untuk inflasi tahun ini itu akan tetep rendah dan terkendali. Untuk inflasi tahun depan kami akan sampaikan dari bulan ke bulan, kami belum melihat ada tekanan inflasi di tahun depan," pungkas Perry.
 

(ABD)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif