Ilustrasi. FOTO: AFP.
Ilustrasi. FOTO: AFP.

BI: AS Barometer Gejolak Ekonomi Global

Ekonomi bank indonesia ekonomi amerika ekonomi global
Husen Miftahudin • 06 September 2019 19:05
Jakarta: Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyebut sumber gejolak ekonomi global yang terjadi saat ini berasal dari Amerika Serikat (AS). Pasalnya, Negeri Paman Sam itu memulai perang dagang dengan Tiongkok.
 
Perang dagang kedua negara itu akhirnya membuat ketidakpastian terhadap ekonomi global. Indonesia pun terkena imbasnya, sebab ekspor dari RI banyak ke Tiongkok dan AS.
 
"Dari semua (ketidakpastian) seluruh dunia itu, barometernya adalah AS," ujar Destry dalam diskusi panel di Museum Bank Indonesia, Jalan Lada, Jakarta Barat, Jumat, 6 September 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sementara di AS, Presiden Donald Trump menjadi sumbu utama gejolak ekonomi. Trump sengaja memberikan pernyataan kontroversial lewat akun resmi media sosialnya, utamanya dari twitter.
 
"Kita pikir trade war akan semakin buruk karena tidak ada negosiasi. Tapi minggu lalu dia (Trump) nge-twit dan membuka peluang negosiasi. Padahal baru buka peluang, tapi pasar langsung berbalik arah," urai Destry.
 
Destry curiga langkah yang dilakukan Trump semata untuk menyesuaikan keadaan dan kebutuhan ekonomi domestik AS. Oleh karena itu, menurutnya, gejolak ekonomi dunia akibat perang dagang tak akan benar-benar hilang.
 
"Para ekonom berpikir bahwa ketika dia butuh dolar, dia bikin isu negatif buat AS, kemudian dolar melemah dan dia beli dolar. Tapi ketika dia banyak dolar dan butuh duit, dia bikin isu positif soal AS. Akhirnya pasar beli, harga dolar naik, untung mereka," ketus Destry.
 
Awal mula perang dagang terjadi kala Trump berencana mengenakan bea masuk atas barang-barang asal Tiongkok senilai USD50 miliar pada Maret 2018. Hal tersebut lantaran adanya dugaan perdagangan yang tak adil antara AS dengan Tiongkok.
 
Tiongkok geram dituduh, dan melakukan pembalasan dengan menerapkan bea masuk untuk lebih dari 128 produk AS. Utamanya untuk produk kedelai yang menjadi ekspor utama AS ke Tiongkok.
 
Di awal Juli 2018, Trump akhirnya memberlakukan bea masuk terhadap barang-barang Tiongkok senilai USD34 miliar. Langkah itu kemudian kembali dibalas oleh Tiongkok dengan memberlakukan aturan dan tarif yang serupa.
 
Teranyar, AS menaikkan tarif impor produk Tiongkok senilai USD200 miliar. Tarif tersebut naik dari 10 persen menjadi 25 persen.
 
Negeri Tirai Bambu kembali membalas dengan berencana menaikkan tarif impor produk AS senilai USD60 miliar. Pemerintah Tiongkok menaikkan tarif barang AS lebih dari 5.000 produk sebesar 25 persen.
 
Adapun sejumlah produk naiknya akan naik menjadi 20 persen. Tarif ini naik dari sebelumnya lima persen hingga 10 persen.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif